Showing posts with label Organik. Show all posts
Showing posts with label Organik. Show all posts

Cara Memnuat Pupuk Organik dari Kotoran Kambing

September 28, 2013
Pada postingan terdahulu menuliskan bagaimana Cara pembuatan Pupuk Organik Cair dan padat, yang bahan dasarnya bhan organik semacam sampah organik, jerami padi dsb. Sedangkan kali ini kita juga akan membuat sama pupuk organik yang bahan terbanyaknya dari kotoran kambing baik padat maupun cair.

Pupuk Organik Cair dari Urine Kambing
Bahan:
1.1  (Satu) drum plastic urine dengan kapasitas 150 liter.
  1. Tetes Tebu/Molasses 1 ltr.
  2. Empon-empon (Temulawak, Temuireng, Kunyit,Laos,Kunci dll) 5kg
  3. EM4 atau merk dagang lain yang banyak di pasaran sebagai starter fermenter
Cara membuat:
  • Bakteri EM4 dan Molases dilarutkan dalam air jernih sebanyak 10 liter kemudian dituangkan ke dalam drum urine.
  • Empon-empon dihancurkan dan dimasukan ke dalam drum.
  • Setelah tercampur antara urine dan bahan-bahantersebut kemudian urine diaduk sampai rata selama 15 menit, kemudian drum plastic ditutup rapat.
  • Lakukan pengadukan setiap hari selama 15 menit dan kemudian drum ditutup rapat kembali selama tujuh hari.
  • Setelah tujuh hari urine dipompa dengan menggunakan pompa yang biasa dipakai pada aquarium untuk meniriskan urine dan dilewatkan melalui talang plastik dengan panjang 2m yang dibuat seperti tangga selama 3 jam, tujuan proses ini untuk penipisan atau menguapkan kandungan gas ammonia, agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan diberi pupuk bio urine tersebut. 
  • Kemudian pupuk cair ini siap digunakan.
Cara Penggunaan Bio Urine :
Untuk aplikasi Bio urine ini bisa disiramkan atau disemprotkan ke tanaman
  • Perbandingan Bio Urine + Air  1:2 untuk tanaman Padi diulang setiap 15 hari sampai dengan umur 60 HST
  • Untuk Rumput Gajah pada saat setelah dipotong/panen

Pupuk Organik Padat dari Kotoran Kambing

BAHAN :

  • 1 ton kotoran kambing
  • 200 kg kapur pertanian (Dolomit)
  • 200 kg abu/sekam/bekas gergajian.
  • 4 Botol EM4  (decomposer)
Alat :
  • Cangkul
  • Terpal
  • Ember
Sebelum kita membuat Campuran bahan tersebut diatas kotoran Kambing harus kita hancurkan terlebih dahulu dengan memakai alat(mesin) atau manual atau dicampur dengan Urea(1%)
Setelah Inthil kambing ini hancur dan tidak utuh lagi kita ikuti tahapan berikut:

Tahapan pembuatan Pupuk Organik Padat (POP)  Kotoran Kambing
  1. Siapkan tempat atau hamparan yang ternaungi dan jika hujan tempat tersebut tidak tergenang air.
  2. Lakukan proses pencampuran bahan, agar mudah dan merata bisa dilakukan dengan cara membuat lapisan-lapisan.
  3. Pembuatan lapisan dengan cara menghamparkan kotoran kambing dan  setebal kurang lebih 20-30 cm dan taburkan dolomit, abu dan decomposer secukupnya.
  4. Kemudian siapkan EM4 dari dosis yang ditetapkan yang dilarutkan dalam air kemudian disiramkan pada lapisan tersebut hingga kadar air mencapai 40%. Atau bisa diukur dengan cara diremas dengan tangan air tidak meneteskan atau  bahan organik tidak pecah saat genggaman tangan dibuka.
  5. Buat lapisan berikutnya hingga semua bahan habis, kemudian lapisan tersebut dicangkul dari salah satu sisi searah hingga menimbulkan timbunan baru.
  6. Lakukan lagi kearah kebalikannya, kemudian ditimbun atau dibuat gunungan sebesar lebar terpal penutup.
  7. Timbunan ditutup rapat dengan terpal dan bagian pinggir terpal diberi beban sehingga jika ada angin terpal tidak terbuka.
  8. Diamkan selama 1 minggu, setelah satu minggu terpal dibuka dan timbunan diaduk untuk tujuan pemberian airasi pada proses pengomposan. Proses pengomposan yang berhasil akan timbul panas dan dapat dirasakan saat pembongkaran gundukan.
  9. Perkirakan setelah 3 minggu Kompos sudah bisa dibongkar dan diangin anginkan supaya menghilangkan bau amoniak dan sudah dapat dipakai.
Cara aplikasi pada tanaman :
Aplikasi pupuk organik untuk tanaman musiman dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan, Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung perakaran berada tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tanah.

Semoga bermaanfaat bagi petani dan peternak

Pembuatan Pupuk Organik Cair dan Padat

April 14, 2013
Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, dan hewan. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan sampah.


PEMBUATAN PUPUK KOMPOS PADAT



Bahan baku terdiri dari 80% bahan organic, 10% pupuk kandang, dan 10% dedak. Untuk pembuatan kompos sebanyak 1 ton diperlukan bahan :



Bahan-bahan
  • Bahan organic (dirajang) 800 kg.
  • Pupuk cair organic 1 liter.
  • Molase  atau  gula  (½  kg  gula merah  dilarutkan dalam air hingga volumenya menjadi 1 liter).
  • Dedak bekatul 10 kg.
  • Pupuk kandang 10 kg.
  • Air tanah atau sumur secukupnya.

Peralatan

-  Karpet/ terpal pelastik

-  Pelastik penutup

-  Cangkul, ember, gembor dan termometer



Cara pembuatan

  1. Campurka baha organic,   dedak   dan   pupuk kandang secara merata
  2. Larutkan EM dan cairan molase, siramkan kebahan organic secara merata sambil diaduk.
  3. Lakukapenyiraman sampai  kadar  air  mencapai 30%. 
  4. Hamparkan adonan diatas lantai yang kering atau diatas alas pelastik dengan ketinggian 15-20 cm.
  5. Tutup dengan trepal/plastic. Suhuideal proses pengomposan dibawah 50 0C. jika suhu bahan tinggi buka terpal sewaktu-waktu untuk menurunkan suhu bahan.
  6. Biarkan proses fermentasi selama 4-7 hari, dan Pupuk kompos siap digunakan.



Aplikasi : Untuk media tanam bisa dicampur dengan tanah. Untuk tanaman sayuran 1 :1. untuk tanaman hias kompos dan tanah 1 : 2. sedangkan untuk didalam pot 1 bagian tanah lempung,   1 bagian pasir dan ¼ Kompos (setahun sekali) perlu  diganti dengan  yang baru. 1  ton kompos bisa digunakan untuk memupuk lahan seluas 0,5 ha.



                                                 PEMBUATAN PUPUK KOMPOS CAIR


Pupuk kompos cair merupakan hasil dari fermentasi bahan organic dan air dengan bantuan bakteri EM. Untuk 200 liter kompos cair diperlukan bahan: Bahan-bahan

  • Pupuk organic cair 1 liter
  • Molase 1 liter
  • Pupuk kandang (ayam/domba)
  • Dedak
  • Air sumur secukupnya

Peralatan
  • Drum/ ember plastic (kapasitas 200 liter).

Cara pembuatan
  1. Isi drum dengan air setengahnya
  2. Pada tempat terpisah, larutkan molase sebanyak 250 g ke dalam 1 liter air sumur.
  3. Masukan molase serta pupuk organic cair kedalam drum dan aduk secara perlahan dan merata.
  4. Masukkan pupuk kandang dan aduk secara merata
  5. Tambahkan air sampai penuh. Lalu tutup drum rapat-rapat. (Lakukan pengadukan setiap pagi selama 4 hari 5 putaran pengadukan setiap harinya)Tutup  kembali,  setelah  4  hari  pupuk siap digunakan.


Cara aplikasi

Dilakukan pencampuran 1 liter kompos cair dicampur dengan 5-10 liter air. Untuk tanaman sayuran dosis yang diberikan  sebanya250  ml  campuran  kompos cair/tanaman setiap  minggu.  Untuk  tanamabuah  5-10 liter/tanaman setiap seminggu sekali. Pupuk disemprotkan ketanah sekitar tanaman.

Jika ada yang mau versi ebooknya maka silakan Download  Disini

Biogas: Sumber Energi Alternatif Masa Depan

March 14, 2013
Gas methan terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan atau disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri biogas yang mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa) sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas. Sebetulnya di tempat-tempat tertentu proses ini terjadi secara alamiah sebagaimana peristiwa ledakan gas yang terbentuk di bawah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Leuwigajah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (Kompas, 17 Maret 2005). Gas methan sama dengan gas elpiji (liquidified petroleum gas/LPG), perbedaannya adalah gas methan mempunyai satu atom C, sedangkan elpiji lebih banyak.
Kebudayaan Mesir, China, dan Roma kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam ini yang dibakar untuk menghasilkan panas. Namun, orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses pembusukan bahan sayuran adalah Alessandro Volta (1776), sedangkan Willam Henry pada tahun 1806 mengidentifikasikan gas yang dapat terbakar tersebut sebagai methan. Becham (1868), murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882), memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan methan.
Pada akhir abad ke-19 ada beberapa riset dalam bidang ini dilakukan. Jerman dan Perancis melakukan riset pada masa antara dua Perang Dunia dan beberapa unit pembangkit biogas dengan memanfaatkan limbah pertanian. Selama Perang Dunia II banyak petani di Inggris dan benua Eropa yang membuat digester kecil untuk menghasilkan biogas yang digunakan untuk menggerakkan traktor. Karena harga BBM semakin murah dan mudah memperolehnya pada tahun 1950-an pemakaian biogas di Eropa ditinggalkan. Namun, di negara-negara berkembang kebutuhan akan sumber energi yang murah dan selalu tersedia selalu ada. Kegiatan produksi biogas di India telah dilakukan semenjak abad ke-19. Alat pencerna anaerobik pertama dibangun pada tahun 1900. (FAO, The Development and Use of Biogas Technology in Rural Asia, 1981).
Negara berkembang lainnya, seperti China, Filipina, Korea, Taiwan, dan Papua Niugini, telah melakukan berbagai riset dan pengembangan alat pembangkit gas bio dengan prinsip yang sama, yaitu menciptakan alat yang kedap udara dengan bagian-bagian pokok terdiri atas pencerna (digester), lubang pemasukan bahan baku dan pengeluaran lumpur sisa hasil pencernaan (slurry) dan pipa penyaluran gas bio yang terbentuk.
Keuntungan teknologi ini dibanding sumber energi alternatif yang lain adalah: Menghasilkan gas yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari‑hari. Kotoran yang telah digunakan untuk menghasilkan gas dapat digunakan sebagal pupuk organik yang sangat baik. Dapat mengurangi kadar bakteri patogen yang terdapat dalam kotoran yang dapat menyebabkan penyakit bila kotoran hewan atau sampah tersebut ditimbun begitu saja.
Yang paling utama yaitu bisa mengurangi permasalahan penanggulangan sampah atau kotoran hewan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan teknologi tertentu, gas methan dapat dipergunakan untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan energi listrik, menjalankan kulkas, mesin tetas, traktor, dan mobil. Secara sederhana, gas methan dapat digunakan untuk keperluan memasak dan penerangan menggunakan kompor gas sebagaimana halnya elpiji.
Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri. Proses degradasi material organik ini tanpa melibatkan oksigen disebut anaerobik digestion Gas yang dihasilkan sebagian besar (lebih 50 % ) berupa metana. material organik yang terkumpul pada digester (reaktor) akan diuraiakan menjadi dua tahap dengan bantuan dua jenis bakteri. Tahap pertama material orgranik akan didegradasi menjadi asam asam lemah dengan bantuan bakteri pembentuk asam. Bakteri ini akan menguraikan sampah pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi. Hidrolisis yaitu penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat menjadi senyawa yang sederhana. Sedangkan asifdifikasi yaitu pembentukan asam dari senyawa sederhana.
Setelah material organik berubah menjadi asam asam, maka tahap kedua dari proses anaerobik digestion adalah pembentukan gas metana dengan bantuan bakteri pembentuk metana seperti methanococus, methanosarcina, methano bacterium.
Perkembangan proses Anaerobik digestion telah berhasil pada banyak aplikasi. Proses ini memiliki kemampuan untuk mengolah sampah / limbah yang keberadaanya melimpah dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih bernilai. Aplikasi anaerobik digestion telah berhasil pada pengolahan limbah industri, limbah pertanian limbah peternakan dan municipal solid waste (MSW).
Proses dekomposisi anaerobik pada dasarnya adalah proses yang terdiri atas dua tahap, yaitu :
1. Proses Asidifikasi (proses pengasaman)Proses asidifikasi teradi karena kehadiran bakteri pembentuk asam yang disebut dengan bakteri asetogenik. Bakteri ini akan memecah struktur organik kompleks menjadi asam‑asam volatil (struktur kecil). Protein dipecah menjadi asam‑asam amino. Karbohidrat dipecah menjadi gula dengan struktur yang sederhana. Lemak dipecah menjadi asam yang berantai panjang. Hasil dari pemecahan ini akan dipecah lebih jauh menjadi asam‑asarn volaid. Bakteri asetogenik juga dapat melepaskan gas hidrogen dan gas karbondioksida.
2. Proses Produksi MetanBakteri pembentuk metan (bakteri metanogenik) menggunakan asam yang terbentuk darl proses asidifikasi. Selain itu juga terdapat bakteri yang dapat membentuk gas metan dari gas hidrogen dan karbondioksida yang dihasilkan dari proses pertama.
Ada tiga kelompok dari bakteri dan Arkhaebakteria yang berperan dalam proses pembentukan biogas, yaitu: 1. Kelompok bakteri fermentatif: Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa jenis Enterobactericeae 2. Kelompok bakteri asetogenik: Desulfovibrio 3. Kelompok Arkhaebakteria dan bakteri metanogen: Mathanobacterium, Mathanobacillus, Methanosacaria, dan Methanococcus.
Faktor‑faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya BiogasPengaruh pH dan Alkalinitas Alkalinitas adalah besaran yang menunjukkan jumlah karbonat dalam larutan. Keasaman diindikasikan oleh besaran pH. Keasaman sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi anaerobik, karena bakteri yang terlibat dalam proses ini hanya dapat bertahan hidup pada interval pH 6,5‑8. Asam yang dihasilkan oleh bakteri asetogenik digunakan oleh bakteri metanogenik dan pada akhirnya pH akan konstan. Secara natural tidak akan terjadi perubahan pH dalarn interval yang besar. Perubahan pH yang besar dapat terjadi karena perubahan dari lingkungan.
Pengaruh Temperatur Bakteri anaerob sangat sensitif terhadap perubahan temperatur. Temperatur optimum untuk terjadinya proses dekomposisi anaerobik adalah sekitar 35oC. Bila temperatur terlalu rendah aktivitas bakteri akan menurun dan mengakibatkan produksi biogas akan menurun. Di lain pihak bila temperatur terlalu tinggi bakteri akan mati dan mengakibatkan produksi biogas akan terhenti.
Reaktor BiogasReaktor biogas (digester anaerob) adalah sebuah tempat yang kondisinya dijaga sedenilkian rupa sehingga proses dekomposisi dapat berjalan dengan optimum. Parameter keoptimuman dari proses ini adalah produksi biogas yang tinggi dengan waktu reterisi yang tidak terlalu larna.
Kebutuhan Gas Gas yang dibutuhkan untuk memasak 1 liter air adalah sekitar 26 liter, jadi sekitar 200 liter gas perhari dibutuhkan untuk kebutuhan sehari‑hari rumah tangga. Bila gas ini mengandung 60% gas metan kita mernbutuhkan sekitar 120 liter metan per hari dengan kandungan energi sebesar 39MJ/m3.
Kebutuhan Kotoran Hewan atau sampah Satu kilogram padatan diolah (bagian darl kotoran hewan atau sampah yang dapat terdegradasi) memproduksi 0,5 m3 metan, tetapi hanya setengah dari padatan tersebut yang akan terdekomposisi. Hal ini berarti kita harus menambahkan sekitar 0,5 kg padatan volatil per hari untuk dapat menghasilkan 120 liter gas metan.
Ukuran Digester Digester merupakan sebuah reaktor yang dirancang sedemikian rupa sehingga kondisi didalamnya menjadi anaerobic, sehingga bisa memungkinkan proses dekomposisi anaerobic bisa terjadi. Kotoran harus ditampung dalam digester selama proses dekomposisi berlangsung atau dengan kata lain sampai kotoran tersebut menghasilkan biogas. Proses dekomposisi oleh bakteri anaerobik sangat dipengaruhi oleh ternperatur.
Biogas sebagian besar mengandung gs metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dan beberapa kandungan yang jumlahnya kecil diantaranya hydrogen sulfida (H2S) dan ammonia (NH3) serta hydrogen dan (H2), nitrogen yang kandungannya sangat kecil.
Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor. Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa parameter yaitu : Menghilangkan hidrogen sulphur, kandungan air dan karbon dioksida (CO2). Hidrogen sulphur mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila biogas mengandung senyawa ini maka akan menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan maksimal 5 ppm. Bila gas dibakar maka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya karena akan membentuk senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulphur dioksida /sulphur trioksida (SO2 / SO3). senyawa ini lebih beracun. Pada saat yang sama akan membentuk Sulphur acid (H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif. Parameter yang kedua adalah menghilangkan kandungan karbon dioksida yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan biogas serta dapat menimbukan korosif.
Ada beberapa jenis reactor biogas yang dikembangkan diantaranya adalah reactor jenis kubah tetap (Fixed-dome), reactor terapung (Floating drum), raktor jenis balon, jenis horizontal, jenis lubang tanah, jenis ferrocement. Dari keenam jenis digester biogas yang sering digunakan adalah jenis kubah tetap (Fixed-dome) dan jenis Drum mengambang (Floating drum). Beberapa tahun terakhi ini dikembangkan jenis reactor balon yang banyak digunakan sebagai reactor sedehana dalam skala kecil.
1. Reaktor kubah tetap (Fixed-dome)Reaktor ini disebut juga reaktor china. Dinamakan demikian karena reaktor ini dibuat pertama kali di chini sekitar tahun 1930 an, kemudian sejak saat itu reaktor ini berkembang dengan berbagai model. Pada reaktor ini memiliki dua bagian yaitu digester sebagai tempat pencerna material biogas dan sebagai rumah bagi bakteri,baik bakteri pembentuk asam ataupun bakteri pembentu gas metana. bagian ini dapat dibuat dengan kedalaman tertentu menggunakan batu, batu bata atau beton. Strukturnya harus kuat karna menahan gas aga tidak terjadi kebocoran. Bagian yang kedua adalah kubah tetap (fixed-dome). Dinamakan kubah tetap karena bentunknya menyerupai kubah dan bagian ini merupakan pengumpul gas yang tidak bergerak (fixed). Gas yang dihasilkan dari material organik pada digester akan mengalir dan disimpan di bagian kubah.
Keuntungan dari reaktor ini adalah biaya konstruksi lebih murah daripada menggunaka reaktor terapung, karena tidak memiliki bagian yang bergerak menggunakan besi yang tentunya harganya relatif lebih mahal dan perawatannya lebih mudah. Sedangkan kerugian dari reaktor ini adalah seringnya terjadi kehilangan gas pada bagian kubah karena konstruksi tetapnya.
2. Reaktor floating drumReaktor jenis terapung pertama kali dikembangkan di india pada tahun 1937 sehingga dinamakan dengan reaktor India. Memiliki bagian digester yang sama dengan reaktor kubah, perbedaannya terletak pada bagian penampung gas menggunakan peralatan bergerak menggunakan drum. Drum ini dapat bergerak naik turun yang berfungsi untuk menyimpan gas hasil fermentasi dalam digester. Pergerakan drum mengapung pada cairan dan tergantung dari jumlah gas yang dihasilkan.
Keuntungan dari reaktor ini adalah dapat melihat secara langsung volume gas yang tersimpan pada drum karena pergerakannya. Karena tempat penyimpanan yang terapung sehingga tekanan gas konstan. Sedangkan kerugiannya adalah biaya material konstruksi dari drum lebih mahal. faktor korosi pada drum juga menjadi masalah sehingga bagian pengumpul gas pada reaktor ini memiliki umur yang lebih pendek dibandingkan menggunakan tipe kubah tetap.

Cara mudah Membuat Kompos dengan biaya murah

March 14, 2013
Secara alamiah sampah organik akan mengalami proses peruraian yang dibantu oleh berbagai jenis mikroba yang hidup di tanah untuk menjadi kompos. Proses penguraian ini membutuhkan kondisi tertentu yaitu suhu, udara dan kelembaban. Semakin cocok kondisinya, maka proses pembentukan kompos akan semakin cepat, tidak kurang dalam 4 – 6 minggu sudah jadi.
Apabila sampah organik hanya ditimbun saja, membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa menjadi kompos. Dalam proses pembuatan kompos akan timbul panas karena aktivitas mikroba. Hal ini karena mikroba mengunyah sampah organik dan memprosesnya menjadi kompos. Suhu optimal untuk proses pengomposan adalah 45⁰ – 65⁰ C, jika terlalu panas kompos harus dibolak-balik setiap 7 hari. Kebehasilan proses pemanfaatan sampah organikmenjadi kompos ada pada bagaimana kita mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, supaya mikroba pengurai memperoleh kondisi yang optimal untuk berkembang biak, makanan cukup (sampah organik) kelembaban ( 30-50%) dan udara segar oksigen.
Cara Pembuatan Kompos                                               
Ada dua hal yang harus dipersiapkan dalam pembuatan kompos yaitu tempat dan sampah organik sebagai bahan dasar pembuatan kompos. Untuk mempercepat proses pembuatan kompos bisa diperlukan larutan bio activator (effective microorganism) yang bisa dibeli di toko pertanian. Untuk bahan organik bisa dari sampah rumah tangga,lingkungan sekitar kita ataupun sampah pasar.
Untuk tempat siapkan minimal dua bidang tanah berukuran 4 x 2 meter persegi. Pada bagian dasar beri lapisan tanah setebal 20 cm, pagari pinggirannya dengan batu bata atau kayu agar kompos tidak tumpah (semacam bak). Usahakan bak pembuatan kompos dibuatkan atap untuk menghindari kena air hujan. Siapkan bahan-bahan kompos yang berupa sampah organik. Karena bentuknya masih kasar maka bahan-bahan harus dicacah dengan ukuran ± 1-2 cm agar bentuknya seragam dan memudahkan kita mencampur. Supaya lebih efektif dan efisien, proses mencacah bisa menggunakan mesin pencacah kompos.
Masukan bahan tersebut ke dalam bak yang sudah kita siapkan. Tumpukan sampah cukup 1,5 meter tingginya, jangan kurang dan juga jangan lebih. Tujuannya untuk menjaga kestabilan suhu di dalam tumpukan sampah. Bila terlalu tinggi , suhu di dasar akan sangat panas. Sebaliknya jika terlalu pendek, panas di dalam tumpukan sampah akan cepat menghilang,akibatnya proses decomposer/ pemasakan kompos akan lama. Tumpukan sampah jangan dipadatkan, bagian atas dibentuk cembung ditengah,tujuannya agar air tidak menggenang. Untuk menjaga kelembaban siram dengan air dan tutup dengan karung goni atau anyaman bambu, sehingga matangnya kompos bisa serempak. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa ditambah larutan bio activator (EM).
Setelah tujuh hari kompos harus dibalikkan. Pindahkan tumpukan kompos tersebut ke tempat bak satunya yang sudah kita persiapkan disebelahnya. Sehingga tumpukan sampah yang tadinya diatas akan berada di bawah, dan sebaliknya. Lakukan hal ini  sebanyak empat kali setiap tujuh hari sekali.
Kompos yang sudah jadi mempunyai ciri-ciri bau dan warnanya sudah mirip dengan tanah, hitam dan kecoklatan. Bila diremas terasa rapuh dan suhunya sekitar 35⁰ C. Apabila kondisi dan bentuk kompos sudah seperti itu berarti kompos yang kita buat sudah jadi, maka tumpukan kompos siap untuk dibongkar.
Apabila kompos akan segera kita pakai, kompos harus diangin-anginkan dahulu untuk menurunkan kadar airnya sampai tinggal 15%. Kompos bisa kita hamparkan dilantai atau diatas karung alas yang lebar. Selanjutnya dibolak-balik sampai mencapai tingkat kekeringan yang kita kehendaki. Setelah selesai kompos siap dikemas atau bisa langsung digunakan sebagai media tanaman.
Demikian artikel cara membuat kompos, semoga bisa membantu anda yang akan memanfaatkan kompos. Selamat memanfaatkan sampah yang ada disekitar kita untuk dibuat kompos dan jadikan bumi kita hijau.
Sumber artikel dari : www.anekamesin.com