Showing posts with label cara menanam. Show all posts
Showing posts with label cara menanam. Show all posts

Bisnis Pembibitan Buah Naga Sistem Stek

April 25, 2016

A. Prospek Keuntungan Bisnis Pembibitan Buah Naga

bisnis pembibitan buah naga sistem stek
Bisnis Pembibitan Buah Naga Sistem Stek. Sejak dikenal di Indonesia pada dekade 90-an, popularitas buah naga kini kian meningkat. Tidak hanya karena bentuknya yang unik dengan warna kulit merah menyala, rasanya yang lezat, dan bertekstur renyah membuat buah naga banyak disukai pecinta buah di Indonesia. Belakangan, juga tersiar kabar bahwa buah naga memiliki berbagai khasiat yang baik untuk kesehatan. Karena berbagai keunggulan tersebut, petani tidak segan mencoba menanam buah naga dalam skala besar. Bahkan, saat ini buah naga dapat dijadikan tabulampot agar dapat ditanam di lahan sempit. Kondisi ini tentu membuka peluang usaha tersendiri bagi usaha pembibitan buah naga.
Selain bagi pemula, bisnis pembibitan buah naga juga dapat dilakukan oleh petani buah naga. Petani dapat memanfaatkan pangkasan sulur atau batang tanaman dewasa sebagai bahan setek. Hanya dari satu indukan buah naga yang memiliki 30 cabang berukuran 60 cm, petani dapat menghasilkan 120 bibit buah naga siap jual. Jika harga bibit buah naga saat ini mencapai Rp10.000, maka dari satu indukan petani dapat meraup untung sebesar Rp1,2 juta. Tentu nilai tersebut akan berlipat jika petani memiliki banyak tanaman dewasa yang sudah berbuah.

B. Persiapan Lokasi dan Perlengkapan Pembibitan Buah Naga

  1. Pilih lokasi pembibitan sesuai syarat tumbuh buah naga, di antaranya terletak di dataran menengah hingga tinggi, kondisi kering dengan curah hujan rendah (720 mm/tahun), intensitas cahaya matahari tinggi, dan suhu udara berkisar antara 26—36° C. Agar setek dapat tumbuh baik, lahan sebaiknya dilengkapi dengan naungan plastik transparan.
  2. Siapkan bahan setek berupa cabang buah naga, polibag berukuran 15 cm x 20 cm, dan media tanam berupa tanah, pasir, pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 3 : 1 :1.
  3. Siapkan alat bertanam seperti cangkul, gembor, sprayer, dan gunting tanaman.

C. Perbanyakan Bibit Buah Naga Sistem Stek

  1. Pilih cabang buah naga yang cukup tua untuk dijadikan bahan setek.
  2. Potong dengan ukuran minimum 15 cm. Bedakan ujung atas dengan dipotong mendatar dan ujung bawah dipotong meruncing. Tujuannya, untuk memudahkan proses penanaman agar tidak terbalik.
  3. Angin-anginkan setek agar getahnya mengering.
  4. Sementara itu, campurkan media tanam hingga merata dan masukkan ke dalam polibag.
  5. Tanam setek dengan posisi tegak. Usahakan agar setek tidak terbalik. Posisi yang terbalik akan menyebabkan setek tidak tumbuh.
  6. Padatkan tanah di sekitar setek. Pastikan setek tertancap kuat dan tidak mudah roboh.
  7. Siram dengan teratur sebanyak 2—3 hari sekali.
  8. Tunas akan tumbuh pada minggu kedua setelah tanam.
  9. Lakukan pemangkasan jika terdapat banyak cabang pada bibit. Sisakan 1—2 cabang saja untuk pertum-buhan selanjutnya.
  10. Lakukan penyiangan gulma agar sanitasi tetap terjaga.
  11. Jika bibit terserang hama dan penyakit, pisahkan bibit dan buang bagian yang terserang. Jika tingkat serangan cukup parah, gunakan pestisida tepat jenis dengan dosis sesuai pada label yang tertera di kemasan.
  12. Salurkan bibit setelah berumur 3—5 bulan.

D. Kendala dan Solusi Bisnis Pembibitan Buah Naga


Kendala
Solusi
Jalur sertifikasi bibit yang rumit
Ikut serta dalam asosiasi atau paguyuban buah naga, sehingga memudahkan dalamproses sertifikasi bibit.
Serangan hama seperti kutu kebul, kutu sisik, kutu batok, tungau, bekicot, dan semut
  1. Jaga sanitasi lingkungan tumbuh pembibitan buah naga.
  2. Buang dan musnahkan hama yang terlihat.
  3. Jika serangan cukup parah, gunakan pestisida tepat jenis dengan dosis yang sesuai pada kemasan.
Tingginya serangan penyakit busuk pangkal batang, busuk bakteri, dan layu fusarium - Penataan jarak antartanaman agar tidak terlalu rapat.
- Gunakan media tanam yang porous agar air tidak cepat tergenang.
- Potong dan buang bagian tanaman yang terserang.
- Jika serangan cukup parah, semprotkan pestisida tepat jenis dengan dosis yang sesuai pada kemasan.

E. Analisis Usaha Bisnis Pembibitan Buah Naga

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan merupakan lahan sewa seluas 1.000 m².
  2. Target produksi sebanyak 20.000 bibit dengan masa produksi selama 3 bulan.
  3. Persentase bibit siap tanam sebesar 80%.
  4. Bahan tanam berupa batang atau sulur buah naga. Kebutuhan batang buah naga untuk menghasilkan target bibit setek siap salur sebanyak 20.000 bibit sebagai berikut.
    Kebutuhan bahan setek = Target produksi x 100/persentase bibit siap salur
                                             = 20.000 x 100/80
                                             = 25.000 bahan setek
    Jika dari satu batang buah naga berukuran 60 cm dapat menghasilkan 4 bahan setek, maka jumlah batang yang harus disediakan adalah 6.250 batang.
  5. Persentase kerusakan polibag sebesar 3%.
  6. Jumlah polibag per kg sebanyak 1.000 buah.
    Kebutuhan polibag = (jumlah bibit + (jumlah bibit x persentase kerusakan)) : jumlah polibag/kg
                                    = (20.000 + (20.000 x 3%))/1.000
                                    = 21 kg
  7. Media berupa tanah, pasir, pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 3 : 1 : 1.
  8. Pembelian tanah dan pasir menggunakan mobil colt berkapasitas 7 m³.

b. Rincian Biaya

—Biaya Investasi


Komponen
Harga Satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1.000 m2
750.000
1
Tahun
750.000
Paranet
875.000
4
Gulung
3.500.000
Bambu
7.500
50
Batang
375.000
Pembuatan sumur
2.000.000
1
Paket
2.000.000
Pemasangan instalansi listrik
250.000
1
Paket
250.000
Pompa air
750.000
1
Buah
750.000
Sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Saung (barak)
1.000.000
1
Paket
1.000.000
Gunting setek
50.000
5
Paket
250.000
Peralatan pertanian
350.000
2
Paket
700.000
Sungkup plastik
300.000
2
paket
600.000
Total biaya investasi
10.875.000

—Biaya Tetap per Periode


Komponen
Masa Pakai (Bulan)
Harga
(Rp)
Penyusutan
Total Biaya (Rp)
Penyusutan sewa lahan
12
750.000
3/12 x Rp750.000
187.500
Penyusutan paranet
36
3.500.000
3/36 x Rp3.500.000
291.667
Penyusutan bambu
12
375.000
3/12 x Rp375.000
93.750
Penyusutan sumur
180
2.000.000
3/180 x Rp2.000.000
33.333
Penyusutan instalasi listrik
60
250.000
3/60 x Rp250.000
12.500
Penyusutan pompa air
96
750.000
3/96 x Rp750.000
23.438
Penyusutan sprayer
36
700.000
3/36 x Rp700.000
58.333
Penyusutan saung
60
1.000.000
3/60 x Rp1.000.000
50.000
Penyusutan gunting setek
36
250.000
3/36 x Rp250.000
20.833
Penyusutan peralatan pertanian
24
700.000
3/24 x Rp700.000
87.500
Penyusutan sungkup
36
600.000
3/36 x Rp600.000
50.000
Total biaya tetap
908.854

—Biaya Variabel per Periode


Komponen
Harga Satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Polibag
25.000
21
Kg
525.000
Pupuk kandang
10.000
40
Karung
400.000
Tanah
300.000
1
Bak colt
300.000
Arang sekam
10.000
15
Karung
150.000
Pasir
175.000
1
Bak colt
175.000
Batang buah naga
6.000
6250
Batang
37.500.000
PupukNPK
4.100
120
Kg
492.000
Pestisida
100.000
2
Kg
200.000
Pembukaan lahan
100.000
1
Paket
100.000
Biaya listrik
50.000
3
Bulan
150.000
Tenaga borongan pengisian media
50
20.000
Polibag
1.000.000
Tenaga borongan setek
500
25.000
Polibag
12.500.000
Biaya tenaga kerja tetap
600.000
3
bulan
1.800.000
Total biaya variabel
55.292.000
—Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional = Total biaya tetap + Total biaya variabel
                                = Rp908.854 + Rp55.292.000
                                = Rp56.200.854

c. Pendapatan dan Keuntungan Bisnis Pembibitan Buah Naga

—Pendapatan per Periode
Pendapatan = Jumlah bibit siap salur x Harga bibit
                   = 20.000 x Rp7.250
                   = Rp145.000.000
—Keuntungan per Periode
Keuntungan  = Pendapatan—Total biaya operasional
                   = Rp145.000.000— Rp56.200.854
                   = Rp88.799.146

d. Kelayakan Usaha Bisnis Pembibitan Buah Naga

—R/C rasio
Rasio R/C = Pendapatan : Total biaya operasional
                 = Rp145.000.000 : Rp56.200.854
                 = 2,58
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,58 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,58.
—Pay back period
Pay back period (titik balik modal atau titik impas) adalah perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.
Payback period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 3 bulan
                         = (Rp10.875.000: Rp88.799.146) x 3 bulan
                         = 0,37 bulan

Anda tertarik? Silakan dicoba untuk memulai bisnis pembibitan buah naga sistem stek. Analisa bisnis untuk usaha pertanian lainnya dapat Anda baca di bagian Agro Bisnis yang membahas prospek industri pertanian sekaligus analisis usaha dalam berbagai perhitungan modal, pengeluaran, hingga keuntungan.

Untung Ratusan Juta Rupiah dari Investasi Kayu Jati

April 25, 2016

A. Keuntungan Bisnis Investasi Kayu Jati

investasi kayu jati
Untung Ratusan Juta Rupiah dari Investasi Kayu Jati. Berkat kekuatan, keawetan dan keindahannya, kayu jati dipilih sebagai jenis kayu kelas satu di Indonesia. Tidak heran, jika harga jual kayu jati sangatlah mahal. Bahkan, dapat mencapai jutaan rupiah per batang. Selain untuk keperluan domestik, adanya peningkatan ekspor furnitur berbahan kayu jati juga menyebabkan permintaan kayu jati menjadi semakin meroket. Biasanya, permintaan tersebut dipenuhi oleh pasokan kayu jati yang berasal dari perhutani dan kayu rakyat. Namun, hingga saat ini, produksi kayu jati di kedua sumber tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan pasar kayu secara keseluruhan. Karena itu, bertanam kayu jati sangat potensial dipilih sebagai primadona investasi usaha di bidang agroforestry. Tidak heran jika anda bisa meraih untung ratusan juta rupiah dari investasi kayu jati.
Keunggulan Bertanam Jati
  • Jati dapat ditanam di tanah kritis.
  • Jati relatif tahan terhadap kekeringan.
  • Jati relatif tahan terhadap tiupan angin.
  • Tegakan jati lebih hemat lahan.
  • Tegakan jati lebih mudah dalam perawatan dan pemeliharaan.
  • Jati dapat ditanam dengan pola tumpang sari (agroforestry).
  • Jati lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Permintaan kayu jati dan harga kayu jati semakin meningkat.

B. Persiapan Lahan Menanam Kayu Jati

  1. Pilih lahan yang sesuai dengan syarat tumbuh jati, di antaranya ketinggian maksimum 700 m dpl, suhu udara 13—43° C, pH tanah 6, kelembapan lingkungan 60—80%, dan curah hujan 1.000—1.500 mm/tahun. Agar kayu jati yang dihasilkan termasuk kualitas kayu mewah (fancy wood), usahakan jati ditanam di daerah yang memiliki kemarau yang panjang.
  2. Lakukan pembersihan lahan (land clearing) untuk menghilangkan gulma yang tumbuh.
  3. Tentukan titik tanam dengan memasang pancang yang terbuat dari ajir. Pada penanaman jati secara monokultur, jarak tanam idealnya 3 x 3 meter. Sementara untuk pola agroforestry (pola tumpang sari), jarak tanam biasanya menyesuaikan dengan jenis tanaman tumpang sari lainnya.
  4. Buat lubang tanam di tempat yang telah ditentukan. Caranya, gali tanah dengan ukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan kedalaman 30 cm. Setelah digali, lubang tanam dibiarkan terlebih dahulu selama 2—3 hari.

C. Penanaman Bibit Jati

  1. Siapkan bibit jati yang telah memiliki kriteria sebagai berikut.
    - Batang tunggal, kokoh, dan sudah berkayu.
    - Bibit tumbuh tegak, antara diameter dan tinggi tampak seimbang.
    - Tinggi bibit minimum 30 cm.
    - Pucuk sehat, daun segar, serta tidak terserang hama dan penyakit.
    - Akar tanaman sehat dan kuat mengikat media di dalam polibag
  2. Hitung jumlah bibit yang dibutuhkan dengan cara membagi luas lahan dengan jarak tanam yang digunakan. Jika luas lahan yang digunakan 1 ha atau 10.000 m² dan jarak tanam 3 x 3 meter, maka jumlah bibit yang dibutuhkan sebanyak 1.111 bibit. Selain bibit yang ditanam, siapkan juga bibit sulaman maksimum 5% dari jumlah bibit yang ditanam.
  3. Lepaskan polibag dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran dan media tanam bibit. Jika polibag sukar dilepaskan, remas sedikit bagian samping polibag. Usahakan tanah di dalam polibag tidak pecah saat penanaman.
  4. Tempatkan bibit tepat di bagian tengah lubang tanam.
  5. Masukkan kompos atau pupuk kandang sebanyak 5—15 kg per lubang tanam.
  6. Masukkan kembali tanah galian ke dalam lubang tanam. Padatkan sedikit agar bibit tidak mudah roboh.

D. Pemeliharaan Bibit Jati

  1. Jika terdapat bibit yang mati atau rusak setelah penanaman, segera lakukan penyulaman. Bibit sulaman sebaiknya memiliki kualitas yang baik dan umur yang hampir sama dengan yang diganti sehingga pertumbuhan jati tetap seragam.
  2. Lakukan penyiangan terhadap ilalang, gulma, dan tanaman pengganggu lainnya secara intensif pada awal tahun penanaman agar pertumbuhan jati tidak terhambat. Selain itu, penyiangan perlu dilakukan pada awal dan akhir musim hujan.
  3. Lakukan pemupukan menggunakan kompos atau pupuk kandang. Jumlah pupuk yang diberikan biasanya 5—15 kg per lubang tanam pada awal membuat lubang tanam. Selain pupuk alami, gunakan juga pupuk NPK untuk mempercepat pertumbuhan. Lakukan pemupukan hingga tahun ke-3. Dosisnya 50 gram pada tahun ke-1, 100 gram pada tahun ke-2, 150 gram pada tahun ke-3.
  4. Lakukan pemangkasan (pruning) pada cabang untuk meningkatkan tinggi bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama. Caranya, potong cabang batang utama pohon jati. Buatlah potongan tersebut sehalus mungkin, agak miring, dan tidak mendatar. Usahakan pemangkasan menggunakan gergaji atau gunting wiwil. Agar tidak menjadi tempat masuknya hama dan penyakit, bekas pangkasan ditutup dengan cat atau ter.
  5. Untuk pola tanam monokultur, lakukan penjarangan setiap 3—5 tahun sampai pohon berumur 15 tahun. Pohon yang dijarangkan (ditebang) adalah pohon yang terserang penyakit, bentuk batangnya cacat atau tumbuh abnormal, dan pertumbuhannya lambat atautertekan. Selain itu, penjarangan juga dapat dilakukan untuk pohon berukuran besar (siap jual). Penjarangan ini bersifat penjarangan komersial.
  6. Pastikan pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan jenis yang menyerang. Jenis hama yang menyerang jati di antaranya ulat jati, uret, penggerek batang, inger-inger, dan penggerek bubuk kayu basah. Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida sesuai takaran yang dianjurkan. Sementara itu, beberapa penyakit yang biasa menyerang jati di antaranya penyakit layu, penyakit mati pucuk, penyakit jamur upas, dan penyakit kanker batang. Pengendalian penyakit ini biasanya menggunakan fungisida atau bakterisida.
  7. Sebelum hama dan penyakit menyerang, sebaiknya kita melakukan pencegahan. Berikut beberapa tindakan pencegahan hama dan penyakit yang dapat dilakukan.
    - Atur jarak tanam agar jati tetap terkena cahaya matahari dan sirkulasi udaranya baik.
    - Lakukan pemangkasan secara teratur.
    - Lakukan pemupukan untuk memacu pertumbuhan tanaman.
    - Lakukan penyiangan secara rutin agar inang atau carrier hama dan penyakit dapat terbasmi sebelum menulari jati.

E. Pemanenan Kayu Jati

  1. Panen jati saat yang berumur 15—20 tahun atau saat batang utama jati berdiameter sekitar 30 cm.
  2. Lakukan pemanenan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon jati.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainnya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Jati

Kendala
Solusi
Kayu jati retak atau patah setelah panen Satu tahun sebelum dipanen, lakukan teres terlebih dahulu. Teres dilakukan dengan cara membacok sekeliling batang utama lalu membiarkannya. Proses peneresan bertujuan untuk mematikan pohon, mengurangi kadar air. Jika tidak diteres, batang utama berisiko rusak akibat kadar air batang terlalu tinggi.

G. Analisis Biaya Bisnis Investasi Kayu Jati

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi jati selama 15 tahun.
  3. Masa pakai hand sprayer, pompa air, dan wheel barrow diasumsikan selama 5 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-6 dan tahun ke-11.
  4. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4, ke-7, dan ke-13.
  5. Jarak tanam yang digunakan berukuran 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  6. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam jati per 15 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
15
Tahun
30.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
33.690.000

Biaya reinvestasi

Komponen
Investasi


Reinvestasi
tahun
ke-1
Tahun
ke-4
Tahun
ke-6
Tahun
ke-7
Tahun
ke-11
Tahun
ke-13
Sewa lahan
30.000.000
-
-
-
-
-
Hand sprayer
700.000
-
700.000
-
700.000
-
Cangkul
500.000
500.000
-
500000
-
500000
Gembor
240.000
240.000
-
240000
-
240000
Garpu
400.000
400.000
-
400000
-
400000
Pompa air dan selang
1.000.000
-
1.000.000
-
1.000.000
-
Wheel barrow
600.000
-
600.000
-
600.000
-
Ember
250.000
250.000
-
250000
-
250000
Total biaya
33.690.000
1.390.000
2.300.000
1.390.000
2.300.000
1.390.000
Total biaya investasi
42.460.000

Biaya variabel bertanam jati per 15 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit jati
3.000
1.167
Buah
3.501.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
335
Kg
1.005.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
10
HOK
400.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
800
HOK
32.000.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
54.781.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                         = Rp42.460.000 + Rp54.781.000
                                        = Rp97.241.000

c. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare

1. Pendapatan

Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Hasil penjarangan I
50
150.000
7.500.000
Hasil penjarangan II
75
350.000
26.250.000
Hasil panen
370
1.500.000
555.000.000
Total
588.750.000

2. Keuntungan

Keuntungan = Pendapatan—total biaya tahun
                   = Rp588.750.000— Rp97.241.000
                   = Rp491.509.000

Selain bisnis investasi kayu jati, Anda juga dapat membuka lahan bisnis pembibitan pohon jati sehingga perputaran usaha dapat berjalan lebih cepat dengan modal yang relatif kecil, tergantung skala usaha.

Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Sengon

April 25, 2016

A. Prospek Menguntungkan Bisnis Investasi Kayu Sengon

bisnis investasi kayu sengon
Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Sengon. Peluang bisnis bertanam sengon kini terbuka lebar. Pasalnya, permintaan pasar terhadap kayu sengon mencapai lebih dari 500.000 m3/tahun. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat seiring dengan tingginya permintaan bahan baku dari industri perkayuan domestik, seperti industri kertas, kayu lapis, kotak peti, dan kayu pertukangan. Tidak hanya itu, saat ini perkembangan bisnis kayu sengon juga sudah menembus pasar internasional. Terbukti, permintaan kayu sengon olahan berupa potongan-potongan kayu untuk tujuan ekspor kini semakin meningkat. Selain adanya jaminan pasar, bisnis kayu sengon mulai dilirik karena menghasilkan rupiah yang tidak sedikit. Tidak perlu menunggu hingga puluhan tahun, pekebun dapat memperoleh laba hingga ratusan juta rupiah dengan luas tanam hanya satu hektare.

B. Persiapan Lahan Menanam Sengon

  1. Pastikan lahan yang akan digunakan memenuhi persyaratan tumbuh sengon, seperti ketinggian lahan maksimum 800 m dpl, suhu 18—27°C, pH tanah 6—7, curah hujan 2.000—4.000 mm/tahun, dan kelembapan 50—75%. Sengon akan tumbuh optimal pada jenis tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu.
  2. Bersihkan lahan dari gulma dan semak belukar secara manual atau kimiawi (herbisida). Pembersihan meliputi jalur tanam dan daerah piringan pada awal musim kemarau.
  3. Tentukan jarak tanam sengon. Umumnya, jarak tanam yang digunakan pekebun sengon monokultur adalah 3 x 3 meter atau 2 x 3 meter. Tandai titik tanam menggunakan ajir.
  4. Lakukan pengolahan lahan dengan cara mencangkul atau membajak tanah sedalam 20—25 cm. Hancurkan tanah yang memadat. Pengolahan tanah biasanya dilakukan di sekitar piringin dengan diameter 1—2 meter dari titik tanam.
  5. Buat lubang tanam berukuran 40 x 40 x 40 cm. Penggalian lubang tanam dilakukan satu minggu sebelum ditanami bibit sengon.
  6. Masukkan pupuk kandang sebanyak 2—4 kg per lubang tanam.
  7. Tambahkan kapur jika lahan yang digunakan cenderung asam atau memiliki keterbatasan unsur Ca dan Mg. Dosis kapur yang digunakan biasanya 100 gram per lubang tanam.

C. Pananaman Bibit Sengon secara Benar

  1. Usahakan penanaman sengon dilakukan pada awal musim hujan. Agar bibit tidak stres, penanaman dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 07.00—11.00 atau sore hari pukul 15.00—17.00.
  2. Siapkan bibit sengon sesuai luas lahan dan jarak tanam yang digunakan. Jika lahan yang digunakan seluas 1 ha dan jarak tanam 3 x 3 meter, maka jumlah bibit yang harus disiapkan sebanyak 1.111 bibit ditambah dengan bibit sulam sebanyak 5% dari jumlah kebutuhan bibit.
  3. Padatkan media di dalam polibag terlebih dahulu agar media menjadi kompak.
  4. Lepaskan polibag secara hati-hati, masukkan bibit sengon ke dalam lubang tanam. Pastikan bibit berada tepat di bagian tengah lubang tanam dengan posisi tegak lurus.
  5. Tutup lubang tanam dengan tanah. Padatkan tanah di sekitar pangkal batang bibit.
  6. Pasang penyangga (ajir) sebagai penanda.

D. Melakukan Pemeliharaan secara Teratur

  1. Lakukan pemupukan setiap empat bulan sekali hingga satu tahun sebelum panen pada awal dan akhir musim hujan. Pupuk yang digunakan berupa pupuk yang mengandung unsur P dan K sebanyak 100—200 gram per lubang tanam. Pupuk tersebut diaplikasikan dengan cara dibenamkan di sekitar piringan tegakan. Usahakan pemupukan dilakukan pada pagi hari (06.00—09.30) atau sore hari (16.00—18.00).
  2. Lakukan penyulaman setelah sengon berumur lebih dari satu bulan. Waktu penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Bibit yang diganti adalah bibit yang rusak, patah, atau terserang hama dan penyakit.
  3. Lakukan penyiangan sebanyak 4—5 kali dalam setahun hingga satu tahun sebelum panen. Penyiangan dapat dilakukan secara teknis manual atau kimiawi menggunakan herbisida. Beberapa jenis herbisida yang biasa digunakan di antaranya Tordon 101, Garlon 480 EC, dan Indamin 720 HC.
  4. Lakukan pemangkasan cabang yang tumbuh saling bersilangan. Tujuannya, agar paparan sinar matahari menuju tajuk tetap optimal.
  5. Lakukan penjarangan tegakan sengon yang lambat tumbuh, tertekan, atau menunjukkan gejala terserang hama dan penyakit.
  6. Lakukan pengendalian hama dan penyakit yang  menyerang sengon, seperti hama boktor, penyakit karat puru, dan penyakit akar merah. Gunakan pestisida secara bijak dan memenuhi syarat (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu).
     
Segera Tangani Sengon yang Terserang Penyakit Karat Puru!
Penyakit karat puru atau karat tumor (gall rust) merupakan penyakit utama yang sering menyerang sengon pada berbagai umur. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan serius, seperti batang utama menjadi rusak dan cacat.
- Pengendalian penyakit karat puru yang menyerang sengon berumur 0—3 tahun. Lakukan pengerokan tumor lalu semprot dengan spiritus.
- Oleskan larutan kapur dan garam dapur. Larutan tersebut dibuat dengan cara mencampur 10 kg kapur dan 1 kg garam yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Lakukan pengolesan setiap minggu.
- Selain campuran tersebut, gunakan juga campuran belerang dan kapur dengan perbandingan 1 : 1 dalam 10 liter air.
Sementara itu, untuk sengon dewasa yang terserang, perlu dilakukan pemotongan dengan radius 10 cm dari bagian yang terinfeksi. Bungkus dengan karung, lalu bakar.

E. Pemanenan Kayu Sengon

  1. Panen sengon dilakukan saat berumur 5—7 tahun. Saat umur tersebut, diameter batang utama sudah mencapai 30 cm.
  2. Sama seperti tanaman kayu lainnya, lakukan pemanenan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon sengon.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainnya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Sengon

Kendala
Solusi
Pertumbuhan sengon relatif lambat Alternatif mempercepat pertumbuhan bisa dilakukan dengan memberikan pupuk hayati. Semprotkan pupuk hayati dengan konsentrasi 200-300 cc/14 liter air. Penyemprotan dilakukan di dinding lubang tanam sebelum penanaman sengon.
Jika sengon sudah ditanam, semprotkan larutan tersebut ke seluruh bagian tanaman setiap tiga bulan. Penyemprotan dilakukan sekitar 10 detik per tanaman.

G. Analisis Usaha Bisnis Investasi Kayu Sengon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi sengon selama 6 tahun.
  3. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4.
  4. Jarak tanam yang digunakan sebesar 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  5. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam sengon per 6 tahun

Komponen
Harga satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
6
Tahun
12.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
Buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
15.690.000

Biaya reinvestasi

Komponen
Investasi Tahun ke-1
Reinvestasi Tahun ke-4
Sewa lahan 1 hektare
12.000.000
-
Hand sprayer
700.000
700.000
Cangkul
500.000
500.000
Gembor
240.000
240.000
Garpu
400.000
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
-
Wheel barrow
600.000
600.000
Ember
250.000
250.000
Total biaya
15.690.000
2.690.000
Total biaya investasi
18.380.000

Biaya variabel bertanam sengon per 6 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit sengon
2.000
1.167
Buah
2.334.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
1.650
Kg
4.950.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
15
HOK
600.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
320
HOK
12.800.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
38.959.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                        = Rp18.380.000 + Rp38.959.000
                                        = Rp57.339.000

b. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare Kayu Sengon

1. Pendapatan

Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
harga per m3 (Rp)
Jumlah
Hasil penjarangan I
30
50.000
1.500.000
Hasil penjarangan II
50
100.000
5.000.000
Hasil panen
400
650.000
260.000.000
Total penerimaan
266.500.000

2. Keuntungan

Keuntungan per 6 tahun = Pendapatan—Total biaya operasional
                                     = Rp266.500.000—Rp57.339.000
                                     = Rp209.161.000

Sekian penjelasan aspek bisnis investasi kayu sengon. Anda juga dapat membuka usaha di bidang pembibitan sengon sebagai pilihan lain. 

Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Jabon

April 25, 2016

A. Prospek Menguntungkan Investasi Kayu Jabon

untung besar bisnis investasi kayu jabon
Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Jabon. Berbisnis jabon memang sangat menguntungkan. Selain mudah diolah dan multifungsi, kayu jabon juga mendatangkan rupiah yang berlipat. Bayangkan saja, modal awal membeli satu bibit jabon saat ini sekitar dua ribu rupiah. Setelah panen, dari satu tegakan jabon dapat dijual menjadi Rp300.000—Rp600.000. Keuntungan berlipat ini dapat diperoleh setelah 5—6 tahun. Walaupun waktu tersebut cukup lama, tetapi jika dibandingkan dengan tanaman penghasil kayu lainnya, jabon justru termasuk tanaman yang cepat tumbuh (fast growing species). Dalam satu tahun, pertumbuhan diameter batang jabon mencapai 5—10 cm, sedangkan kenaikan tinggi pohon mencapai 3—6 m.
Berdasarkan karakteristiknya, jabon tergolong tanaman kayu yang memiliki batang yang lurus dan silindris, cabangnya berukuran kecil dan mendatar, memiliki kemampuan pemangkasan alami (self pruning), serta relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Jabon juga termasuk tumbuhan pionir yang dapat tumbuh di lahan terbuka atau kritis sehingga sering digunakan untuk penghijauan, reklamasi lahan bekas tambang, dan pohon peneduh. Kayu yang dihasilkan mudah diolah dan umumnya digunakan sebagai kayu lapis, veeneer basah, bahan pembungkus, korek api, bahan konstruksi ringan, bahan baku papan partikel, dan bubur kertas (pulp). Sekarang, mari kita bahas tahapan Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Jabon.

B. Persiapan Lahan Menanam Jabon

  1. Pastikan lahan yang akan digunakan sesuai dengan syarat tumbuh jabon. Umumnya, jabon akan tumbuh optimal pada ketinggian 10—900 m dpl, suhu 21—26º C, dan curah hujan 1.500—5.000 mm/tahun.
  2. Untuk meminimalisasi biaya produksi, usahakan lahan yang digunakan merupakan milik pribadi. Jika menggunakan lahan sewa, sebaiknya lakukan simulasi biaya agar usaha ini tidak rugi.
  3. Lakukan proses pembersihan lahan meliputi jalur tanam dan daerah piringan dengan bantuan alat seperti parang, cangkul, dan mesin pemotong rumput. Selain itu, pembersihan lahan juga dapat menggunakan herbisida agar lahan terbebas dari tumbuhan pengganggu seperti semak belukar, alang-alang, dan rerumputan.
  4. Tentukan jarak tanam jabon sesuai tujuan penggunaan kayu yang dihasilkan.
    - Jarak tanam untuk tujuan penanaman jabon sebagai bahan baku pulp biasanya menggunakan jarak tanam 2 x 2 meter atau 3 x 2 meter.
    - veneer biasanya menggunakan jarak 3 x 3 meter.
    - Jarak tanam untuk tujuan penanaman dengan sistem tumpang sari dapat menggunakan 4 x 4 meter, 5 x 5 meter, atau 8 x 8 meter.
  5. Buat lubang tanam pada titik tanam yang telah ditentukan. Umumnya, ukuran lubang tanam yang digunakan 40 x 40 x 40 cm. Sebaiknya, lakukan penggalian lubang tanam satu minggu sebelum ditanami bibit jabon.
  6. Masukkan pupuk kandang atau kompos sebanyak 3—5 kg dan pupuk NPK sebanyak 50—100 gram per lubang tanam.
  7. Tambahkan kapur jika lahan yang digunakan cenderung asam atau memiliki keterbatasan unsur Ca dan Mg. Dosis kapur yang digunakan biasanya 100 gram per lubang tanam.

C. Tanam Jabon dengan Benar

  1. Usahakan proses penanaman jabon dilakukan pada awal musim hujan. Agar bibit tidak mengalami stres, lakukan penanaman pada pagi hari, yaitu pukul 07.00—11.00 atau sore hari pukul 15.00—17.00.
  2. Siapkan bibit jabon. Padatkan media di dalam polibag. Tujuannya, agar media menjadi kompak dan tidak hancur saat polibag dibuka.
  3. Sobek polibag secara hati-hati, masukkan bibit jabon ke dalam lubang tanam hingga sebatas leher akar. Setelah itu, tutup lubang tanam dengan tanah.
  4. Padatkan tanah di sekitar pangkal batang bibit. Bibit harus berada tepat di tengah-tengah lubang tanam dengan posisi tegak lurus. Setelah itu, pasang penyangga (ajir) sebagai penanda.

D. Lakukan Pemeliharaan Jabon dengan Baik

  1. Lakukan pemupukan susulan berupa pupuk NPK setiap enam bulan, pada awal dan akhir musim hujan dengan dosis 100—200 gram per tanaman. Proses pemupukan ini dilakukan hingga tahun ketiga. Tujuannya, untuk mempercepat pertumbuhan jabon. Pemberian pupuk dilakukan di piringan (kedua sisi tanaman secara berlawanan). Caranya, buat lubang dengan kedalaman sekitar 5 cm. masukkan pupuk, lalu tutup kembali lubang tersebut. Pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
  2. Lakukan penyulaman tanaman yang rusak dan mati satu bulan setelah penanaman. Pastikan bibit sulam yang digunakan dalam kondisi sehat dan seumur.
  3. Lakukan penyiangan secara manual atau mekanis di dalam piringan dengan jarak 1 meter dari pokok tanaman. Penyiangan juga dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan herbisida (chemical weeding).

    Tabel 6. Pelaksanaan penyiangan (weeding) berdasarkan waktu dan kondisi gulma
     
    Umur
    Tanaman
    (Bulan)
    Kegiatan
    Kondisi Areal
    Deskripsi
    2 Weeding I Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Buka piringan (radius satu meter)
    Gulma padat dan tinggi Pangkas gulma, lalu lakukan chemical weeding
    5
    Weeding II Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Chemical weeding
    Gulma padat dan tinggi Pangkas gulma, lalu lakukan
    chemical weeding
    8
    Weeding III Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Pangkas atau babat
    12
    Weeding IV Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Pangkas atau babat
  4. Lakukan pendangiran sebanyak lima kali dalam setahun dengan jarak piringan sekitar 50 cm dari pokok tanaman. Tujuannya, untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman.
  5. Lakukan pemangkasan cabang kayu yang dekat dengan permukaan tanah, cabang yang rusak, dan cabang yang terkena serangan penyakit bersamaan dengan waktu pendangiran. Caranya, pangkas cabang hingga berjarak sekitar 2—5 cm dari batang utama. Segera tutup luka pangkas dengan bahan penutup luka seperti ter atau parafin. Lakukan pemangkasan hingga tahun kedua. Setelah berumur 2 tahun, jabon sudah mengalami pemangkasan cabang secara alami (self prunning).
  6. Lakukan penjarangan pertama setelah tanaman berumur tiga tahun. Caranya, tebang secara berselang satu pohon di setiap baris atau lajur. Selain untuk pohon siap jual, penjarangan juga dapat dilakukan untuk pohon yang tertekan, batang utama bengkok, menggarpu, bercabang banyak, serta terserang hama dan penyakit.
  7. Lakukan pengendalian hama dan penyakit menggunakan insektisida, fungisida, atau bakterisida. Penggunaan bahan kimia tersebut disesuaikan dengan gejala yang terjadi pada tanaman. Hama yang umum ditemui pada jabon di antaranya uret, ulat grayak, ulat pengisap daun, ulat api, tikus, dan belalang. Sementara itu, penyakit yang sering menyerang jabon di antaranya bercak daun, keriting daun, embun tepung, dan busuk akar.

E. Pemanenan Kayu Jabon

  1. Panen jabon saat berumur 5—6 tahun. Saat umur tersebut, diameter batang utama sudah mencapai 30 cm. Waktu pemanenan juga dapat dilakukan sesuai permintaan pasar.
  2. Sama seperti tanaman kayu lainnya, pemanenan dilakukan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon jabon.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Jabon

Kendala
Solusi
Pertumbuhan jabon relatif lambat Lambatnya pertumbuhan jabon dapat terjadi karena kekurangan unsur hara atau air. Lakukan pemupukan secara benar dan sesuai dosis. Penyiangan dan penyiraman juga perlu dilakukan secara teratur.

G. Analisis Usaha Bisnis Investasi Kayu Jabon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi jabon selama 6 tahun.
  3. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4.
  4. Jarak tanam yang digunakan berukuran 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  5. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam jabon per 6 tahun

Komponen
Harga(Rp)
Jumlah
Satuan
Rincian
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
6
Tahun
12.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
Buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
15.690.000

Komponen
Investasi Tahun ke-1
Reinvestasi Tahun ke-4
Sewa lahan 1 hektare
12.000.000
0
Hand sprayer
700.000
700.000
Cangkul
500.000
500.000
Gembor
240.000
240.000
Garpu
400.000
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
0
Wheel barrow
600.000
600.000
Ember
250.000
250.000
Total biaya
15.690.000
2.690.000
Total Biaya Investasi
18.380.000

Biaya variabel bertanam jabon per 6 tahun

Komponen
Harga (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit jabon
2.000
1.167
Buah
2.334.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
1.000
Kg
3.000.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
10
HOK
400.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
320
HOK
12.800.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
36.409.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                        = Rp18.380.000 + Rp36.409.000
                                        = Rp54.789.000

b. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare Kayu Jabon

1. Pendapatan


Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
harga per m3 (Rp)
Jumlah
Hasil penjarangan I
30
50.000
1500000
Hasil panen
350
750.000
262500000
Total penerimaan
264.000.000

2. Keuntungan

Keuntungan per 6 tahun    = Pendapatan—Total biaya operasional
                                        = Rp264.000.000—Rp54.789.000
                                        = Rp209.211.000