Showing posts with label sengon. Show all posts
Showing posts with label sengon. Show all posts

Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Sengon

April 25, 2016

A. Prospek Menguntungkan Bisnis Investasi Kayu Sengon

bisnis investasi kayu sengon
Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Sengon. Peluang bisnis bertanam sengon kini terbuka lebar. Pasalnya, permintaan pasar terhadap kayu sengon mencapai lebih dari 500.000 m3/tahun. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat seiring dengan tingginya permintaan bahan baku dari industri perkayuan domestik, seperti industri kertas, kayu lapis, kotak peti, dan kayu pertukangan. Tidak hanya itu, saat ini perkembangan bisnis kayu sengon juga sudah menembus pasar internasional. Terbukti, permintaan kayu sengon olahan berupa potongan-potongan kayu untuk tujuan ekspor kini semakin meningkat. Selain adanya jaminan pasar, bisnis kayu sengon mulai dilirik karena menghasilkan rupiah yang tidak sedikit. Tidak perlu menunggu hingga puluhan tahun, pekebun dapat memperoleh laba hingga ratusan juta rupiah dengan luas tanam hanya satu hektare.

B. Persiapan Lahan Menanam Sengon

  1. Pastikan lahan yang akan digunakan memenuhi persyaratan tumbuh sengon, seperti ketinggian lahan maksimum 800 m dpl, suhu 18—27°C, pH tanah 6—7, curah hujan 2.000—4.000 mm/tahun, dan kelembapan 50—75%. Sengon akan tumbuh optimal pada jenis tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu.
  2. Bersihkan lahan dari gulma dan semak belukar secara manual atau kimiawi (herbisida). Pembersihan meliputi jalur tanam dan daerah piringan pada awal musim kemarau.
  3. Tentukan jarak tanam sengon. Umumnya, jarak tanam yang digunakan pekebun sengon monokultur adalah 3 x 3 meter atau 2 x 3 meter. Tandai titik tanam menggunakan ajir.
  4. Lakukan pengolahan lahan dengan cara mencangkul atau membajak tanah sedalam 20—25 cm. Hancurkan tanah yang memadat. Pengolahan tanah biasanya dilakukan di sekitar piringin dengan diameter 1—2 meter dari titik tanam.
  5. Buat lubang tanam berukuran 40 x 40 x 40 cm. Penggalian lubang tanam dilakukan satu minggu sebelum ditanami bibit sengon.
  6. Masukkan pupuk kandang sebanyak 2—4 kg per lubang tanam.
  7. Tambahkan kapur jika lahan yang digunakan cenderung asam atau memiliki keterbatasan unsur Ca dan Mg. Dosis kapur yang digunakan biasanya 100 gram per lubang tanam.

C. Pananaman Bibit Sengon secara Benar

  1. Usahakan penanaman sengon dilakukan pada awal musim hujan. Agar bibit tidak stres, penanaman dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 07.00—11.00 atau sore hari pukul 15.00—17.00.
  2. Siapkan bibit sengon sesuai luas lahan dan jarak tanam yang digunakan. Jika lahan yang digunakan seluas 1 ha dan jarak tanam 3 x 3 meter, maka jumlah bibit yang harus disiapkan sebanyak 1.111 bibit ditambah dengan bibit sulam sebanyak 5% dari jumlah kebutuhan bibit.
  3. Padatkan media di dalam polibag terlebih dahulu agar media menjadi kompak.
  4. Lepaskan polibag secara hati-hati, masukkan bibit sengon ke dalam lubang tanam. Pastikan bibit berada tepat di bagian tengah lubang tanam dengan posisi tegak lurus.
  5. Tutup lubang tanam dengan tanah. Padatkan tanah di sekitar pangkal batang bibit.
  6. Pasang penyangga (ajir) sebagai penanda.

D. Melakukan Pemeliharaan secara Teratur

  1. Lakukan pemupukan setiap empat bulan sekali hingga satu tahun sebelum panen pada awal dan akhir musim hujan. Pupuk yang digunakan berupa pupuk yang mengandung unsur P dan K sebanyak 100—200 gram per lubang tanam. Pupuk tersebut diaplikasikan dengan cara dibenamkan di sekitar piringan tegakan. Usahakan pemupukan dilakukan pada pagi hari (06.00—09.30) atau sore hari (16.00—18.00).
  2. Lakukan penyulaman setelah sengon berumur lebih dari satu bulan. Waktu penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Bibit yang diganti adalah bibit yang rusak, patah, atau terserang hama dan penyakit.
  3. Lakukan penyiangan sebanyak 4—5 kali dalam setahun hingga satu tahun sebelum panen. Penyiangan dapat dilakukan secara teknis manual atau kimiawi menggunakan herbisida. Beberapa jenis herbisida yang biasa digunakan di antaranya Tordon 101, Garlon 480 EC, dan Indamin 720 HC.
  4. Lakukan pemangkasan cabang yang tumbuh saling bersilangan. Tujuannya, agar paparan sinar matahari menuju tajuk tetap optimal.
  5. Lakukan penjarangan tegakan sengon yang lambat tumbuh, tertekan, atau menunjukkan gejala terserang hama dan penyakit.
  6. Lakukan pengendalian hama dan penyakit yang  menyerang sengon, seperti hama boktor, penyakit karat puru, dan penyakit akar merah. Gunakan pestisida secara bijak dan memenuhi syarat (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu).
     
Segera Tangani Sengon yang Terserang Penyakit Karat Puru!
Penyakit karat puru atau karat tumor (gall rust) merupakan penyakit utama yang sering menyerang sengon pada berbagai umur. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan serius, seperti batang utama menjadi rusak dan cacat.
- Pengendalian penyakit karat puru yang menyerang sengon berumur 0—3 tahun. Lakukan pengerokan tumor lalu semprot dengan spiritus.
- Oleskan larutan kapur dan garam dapur. Larutan tersebut dibuat dengan cara mencampur 10 kg kapur dan 1 kg garam yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Lakukan pengolesan setiap minggu.
- Selain campuran tersebut, gunakan juga campuran belerang dan kapur dengan perbandingan 1 : 1 dalam 10 liter air.
Sementara itu, untuk sengon dewasa yang terserang, perlu dilakukan pemotongan dengan radius 10 cm dari bagian yang terinfeksi. Bungkus dengan karung, lalu bakar.

E. Pemanenan Kayu Sengon

  1. Panen sengon dilakukan saat berumur 5—7 tahun. Saat umur tersebut, diameter batang utama sudah mencapai 30 cm.
  2. Sama seperti tanaman kayu lainnya, lakukan pemanenan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon sengon.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainnya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Sengon

Kendala
Solusi
Pertumbuhan sengon relatif lambat Alternatif mempercepat pertumbuhan bisa dilakukan dengan memberikan pupuk hayati. Semprotkan pupuk hayati dengan konsentrasi 200-300 cc/14 liter air. Penyemprotan dilakukan di dinding lubang tanam sebelum penanaman sengon.
Jika sengon sudah ditanam, semprotkan larutan tersebut ke seluruh bagian tanaman setiap tiga bulan. Penyemprotan dilakukan sekitar 10 detik per tanaman.

G. Analisis Usaha Bisnis Investasi Kayu Sengon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi sengon selama 6 tahun.
  3. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4.
  4. Jarak tanam yang digunakan sebesar 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  5. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam sengon per 6 tahun

Komponen
Harga satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
6
Tahun
12.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
Buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
15.690.000

Biaya reinvestasi

Komponen
Investasi Tahun ke-1
Reinvestasi Tahun ke-4
Sewa lahan 1 hektare
12.000.000
-
Hand sprayer
700.000
700.000
Cangkul
500.000
500.000
Gembor
240.000
240.000
Garpu
400.000
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
-
Wheel barrow
600.000
600.000
Ember
250.000
250.000
Total biaya
15.690.000
2.690.000
Total biaya investasi
18.380.000

Biaya variabel bertanam sengon per 6 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit sengon
2.000
1.167
Buah
2.334.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
1.650
Kg
4.950.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
15
HOK
600.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
320
HOK
12.800.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
38.959.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                        = Rp18.380.000 + Rp38.959.000
                                        = Rp57.339.000

b. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare Kayu Sengon

1. Pendapatan

Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
harga per m3 (Rp)
Jumlah
Hasil penjarangan I
30
50.000
1.500.000
Hasil penjarangan II
50
100.000
5.000.000
Hasil panen
400
650.000
260.000.000
Total penerimaan
266.500.000

2. Keuntungan

Keuntungan per 6 tahun = Pendapatan—Total biaya operasional
                                     = Rp266.500.000—Rp57.339.000
                                     = Rp209.161.000

Sekian penjelasan aspek bisnis investasi kayu sengon. Anda juga dapat membuka usaha di bidang pembibitan sengon sebagai pilihan lain. 

Bisnis Pembibitan Sengon

April 25, 2016

A. Keuntungan Bisnis Pembibitan Sengon

bisnis pembibitan sengon
Bisnis Pembibitan Sengon. Sengon merupakan salah satu jenis tanaman kayu yang cukup populer. Kepopuleran sengon diraih sejak Kementerian Kehutanan menggalakkan program sengonisasi 300.000 hektare pada tahun 1989. Selain bertujuan untuk mencegah erosi di aliran DAS, ternyata sengon juga dapat menghasilkan kayu dengan kualitas yang baik. Saat ini, kayu yang dihasilkan sengon dapat diolah menjadi produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti palet kayu, vinir kayu, dan block board. Berkat program sengonisasi dan tingginya daya jual kayu sengon, permintaan bibit sengon pun mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini tentu membuat peluang bisnis membibitkan sengon menjadi sangat terbuka.
Mendapatkan Bibit Sengon dengan Cangkok
Selain menggunakan biji atau benih, bibit sengon ternyata dapat diperolah dengan cara pencangkokan. Syaratnya, tetap menyisakan tunggul batang pada saat panen sengon. Dari tunggul tersebut, biasanya akan tumbuh trubusan baru yang dapat dijadikan bibit. Dengan metode ini, panen menjadi lebih cepat dan menghemat biaya. Pembuatan bibit cangkokan sudah lazim dilakukan oleh petani hutan. Keunggulan cangkok adalah sifat unggul induknya diturunkan kepada anaknya. Karena itu, pohon indukan harus dipilih yang benar-benar unggul, seperti pertumbuhannya cepat, batang lurus, serta bebas hama dan penyakit.

B. Menyiapkan Lokasi dan Perlengkapan Pembibitan Sengon

  1. Pilih lokasi pembibitan sesuai dengan syarat tumbuh sengon. Idealnya, lokasi terletak di ketinggian 0—800 m dpl dan beriklim basah dengan curah hujan 2.000—4.000 mm/tahun. Lokasi pembibitan juga diutamakan berupa lahan datar dengan derajat kemiringan maksimum 5%. Pastikan tanah yang digunakan berupa tanah subur dan gembur dengan pH tanah berkisar antara 6—7.
  2. Usahakan lokasi pembibitan terletak di tempat yang strategis dan memiliki akses jalan yang memadai. Tujuannya, untuk memudahkan kunjungan konsumen dan melancarkan proses pengangkutan bibit. Selain itu, lokasi pembibitan juga sebaiknya dekat dengan sumber air, seperti sungai, sarana irigasi, dan sumur.
  3. Siapkan perlengkapan penyemaian dan pembibitan berupa ayakan, alat sangrai, bedeng tabur seluas 5 x 1 m², bedeng sapih, hand sprayer, cangkul, kored, dan alat pertanian lainnya.
  4. Siapkan bahan berupa benih sengon, pasir halus, kompos, pupuk kandang, pupuk TSP, dan pestisida jika diperlukan.

C. Menyemaikan Benih Sengon

  1. Pastikan benih sengon yang akan ditanam merupakan benih bersertifikat yang diperoleh dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH). Benih berkualitas ini sangat penting bagi penangkar sengon. Pasalnya, benih yang ditanam harus bebas dari hama dan penyakit, khususnya penyakit karat tumor. Selain membeli dari sumber benih, benih sengon juga dapat diperoleh dengan cara mengekstraksi dari pohon indukan sengon yang telah berbuah.
  2. Rendam benih di dalam air mendidih selama 5—10 menit, lalu tiriskan. Setelah itu, rendam kembali di dalam air dingin selama 24 jam. Perlakuan tersebut merupakan salah satu cara untuk memecah dormansi benih.
  3. Sementara itu, siapkan bedeng tabur berukuran 5 x 1 m dengan media tanam berupa campuran tanah dan pasir (1 : 2) yang telah disangrai.
  4. Buat larikan searah panjang bedengan dengan jarak antar-larikan sebesar 5 cm.
  5. Taburkan benih secara merata di dalam larikan, kemudian tutup kembali larikan dengan tanah secara tipis. Umumnya, untuk luasan bedeng tabur 5 m², diperlukan 200 gram benih sengon.

D. Menyapih Bibit Sengon

  1. Lakukan penyapihan setelah kecambah sengon berumur 10—14 hari.
  2. Siapkan bedeng sapih berukuran lebar 1 m dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Tinggi bedeng sebaiknya 10—15 cm.
  3. Siapkan polibag berukuran 10 x 15 cm. Isi polibag menggunakan media tanam berupa campuran tanah, pasir, dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1 hingga tiga perempat bagian polibag.
  4. Pilih kecambah yang memiliki pertumbuhan normal, batang lurus, serta tidak terserang hama dan penyakit. Cungkil kecambah beserta tanah yang berada di sekitar akar agar perakaran kecambah tersebut tidak rusak. Tanam kecambah ke dalam polibag dan tambahkan media tanam agar kecambah tidak mudah roboh.
  5. Susun polibag yang telah berisi kecambah sengon di bedeng sapih yang telah disediakan. Buat pelabelan sesuai tanggal sapih untuk memudahkan pendataan.
  6. Lakukan pemeliharaan kecambah selama 3—5 bulan hingga bibit siap jual.

E. Memelihara Bibit Sengon

  1. Lakukan penyiraman dua atau tiga kali sehari pada pagi dan sore hari. Namun, pada saat musim hujan, penyiraman tidak perlu dilakukan.
  2. Siangi gulma secara teratur untuk menghindari persaingan dalam proses penyerapan makanan. Saat penyiangan, perlu juga dilakukan pemeriksaan kondisi bibit, pisahkan bibit yang terkena hama atau penyakit. Penyakit yang biasanya menyerang bibit sengon adalah dumping off dan busuk akar.
  3. Lakukan pemupukan menggunakan campuran pupuk kandang, TSP, dan air dengan dosis dua sendok makan per polibag setiap dua minggu. Campuran pupuk tersebut dibuat dengan cara menyiapkan satu drum atau tong bekas berkapasitas 200 liter, lalu isikan setengah kapasitas drum dengan pupuk kandang. Tambahkan air hingga tiga perempat kapasitas drum dan tambahkan 15 kg TSP. Biarkan selama seminggu sebelum diaplikasikan pada bibit sengon.

F. Memanen Bibit Sengon

  1. Lakukan pemanenan saat bibit sengon berumur 3—5 bulan.
  2. Pastikan bibit sengon telah memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut.
No.
Kriteria
Mutu Pertama
Mutu Kedua
1. Kekompakan media Utuh Retak
2. Tinggi 36-45 cm 25-45 cm
3. Diameter 4-7 mm 3-4 mm
4. Nilai kekokohan bibit 51-90 62-88
5. Warna daun Hijau
Hijau muda sebagian

G. Kendala dan Solusi Bisnis Pembibitan Sengon

Kendala
Solusi
Kualitas benih sengon kurang baik Untuk memilih benih berkualitas, dapat dilakukan beberapa tip. Bungkus benih yang telah ditetesi air menggunakan aluminium foil. Panaskan menggunakan oven pada suhu 50o C dengan kelembapan 100% selama 4 jam. Setelah itu, rendam benih di dalam air bersih. Benih yang bermutu baik akan tenggelam.
Penyakit sering menyerang bibit sengon Rendam benih dengan campuran air dan fungisida (Benlate, Dithane, atau Derasol) dengan konsentrasi 0,5—1 gram per liter air selama 5—10 menit sebelum penyemaian. Selain itu, lakukan juga penyemprotan fungisida berbahan aktif tembaga (Manchotane, Manteb, dan Manzate) setiap 6 hari hingga berkecambah. Jika bibit telah terserang, semprotkan Danvil, Anvil, atau Andil dengan dosis 1—2 ml/liter air.

H. Analisis Usaha Bisnis Pembibitan Sengon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan merupakan lahan sewa seluas 1.000 m².
  2. Target produksi sebanyak 20.000 bibit.
  3. Benih yang digunakan merupakan benih bersertifikat seharga Rp1.600.000/kg.
  4. Persentase berkecambah benih sebesar 70%.
  5. Persentase bibit siap tanam sebesar 80%.
  6. Jumlah butir benih per kg sebanyak 25.000 butir per gram.
    Kebutuhan benih = Target produksi : (persentase berkecambah x persentase bibit siap salur x jumlah butir benih)
    = 20.000 : (70% x 80% x 25.000)
    = 1,5 kg
  7. Persentase kerusakan polibag sebesar 3%.
  8. Jumlah polibag per kg sebanyak 1.000 buah.
    Kebutuhan polibag = (jumlah bibit + (jumlah bibit x persentase kerusakan)) : jumlah polibag/kg
    = (20.000 + (20.000 x 3%))/1.000
    = 20,6 kg
    = 21 kg
  9. Media semai berupa campuran tanah, arang sekam, dan kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
  10. Pembelian tanah menggunakan mobil colt berkapasitas 7 m³.
  11. Pembelian arang sekam dan kompos berupa kemasan karung dengan kapasitas masing-masing 50 kg dan 20 kg.

b. Rincian Biaya

Biaya investasi pembibitan sengon

Komponen
Harga Satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1.000 m2
750.000
1
Tahun
750.000
Paranet
800.000
4
Gulung
3.200.000
Bambu
7.500
50
Batang
375.000
Pembuatan sumur
2.000.000
1
Paket
2.000.000
Pemasangan instalansi listrik
250.000
1
Paket
250.000
Pompa air
750.000
1
Buah
750.000
sprayer
350.000
1
Buah
350.000
Saung (barak)
1.000.000
1
Paket
1.000.000
Peralatan pertanian
400.000
1
Paket
400.000
Sungkup plastik
300.000
2
Paket
600.000
Total biaya investasi
8.925.000

Biaya tetap pembibitan sengon per periode

Komponen
Masa
Pakai
Harga
(Rp)
Perhitungan
Total Biaya (Rp)
Penyusutan sewa lahan
12
750.000
4/12 x Rp750.000
250.000
Penyusutan paranet
36
3.200.000
4/36 x Rp3.200.000
355.556
Penyusutan bambu
12
375.000
4/12 x Rp375.000
125.000
Penyusutan sumur
96
2.000.000
4/96 x Rp2.000.000
83.333
Penyusutan instalasi listrik
60
250.000
4/60 x Rp250.000
16.667
Penyusutan pompa air
48
750.000
4/48 xRp750.000
62.500
Penyusutan sprayer 36 350.000 4/36 x Rp350.000 38.889
Penyusutan saung 60 1.000.000 4/60 x Rp1.000.000 66.667
Penyusutan peralatan pertanian 24 400.000 4/24 x Rp400.000 66.667
Penyusutan sungkup 36 600.000 4/36 x Rp600.000 66.667
Total biaya tetap 1.131.944

Biaya variabel pembibitan jati per periode

Komponen
Harga Satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Polibag
25.000
21
Kg
525.000
Kompos
10.000
100
Karung
1.000.000
Tanah
300.000
2
Bak
600.000
Arang sekam
10.000
20
Karung
400.000
Benih sengon
1.600.000
1,5
Kg
2.400.000
PupukNPK
3.000
140
Kg
420.000
Pupuk Gandasil D
60.000
15
Kg
900.000
Pestisida
100.000
2
Kg
200.000
Pembukaan lahan
500.000
1
Borongan
500.000
Biaya listrik
75.000
4
Bulan
300.000
Tenaga pengisian media
50
20.000
Polibag
1.000.000
Tenaga penyapihan
25
20.000
Polibag
500.000
Biaya tenaga kerja
600.000
4
Bulan
2.400.000
Total biaya variabel
11.145.000
Total biaya operasional  = Total biaya tetap + Total biaya variabel
                                     = Rp1.131.944 + Rp11.145.000
                                     = Rp12.276.944

c. Pendapatan dan Keuntungan per Periode Bisnis Pembibitan Sengon

1. Pendapatan

Pendapatan  = Jumlah bibit x harga jual
                     = 20.000 bibit x Rp1.500
                     = Rp30.000.000

2. Keuntungan

Keuntungan   = Pendapatan—total biaya operasional
                       = Rp30.000.000— Rp12.276.944
                       = Rp17.723.056

d. Kelayakan Usaha

1. Rasio R/C

Rasio R/C     = Pendapatan : Total biaya operasional
                     = Rp30.000.000 : Rp12.276.944
                     = 2,44
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,44 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,44.

2. Pay Back Period

Pay back period (titik balik modal atau titik impas) adalah perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.
Pay back period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 4 bulan
                          = (Rp8.925.000 : Rp17.723.056) x 4 bulan
                          = 2,01 bulan
SENGON

SENGON

February 05, 2010
Sengon-Dari  hasil listing Sensus Pertanian 2003, menunjukkan bahwa di Indonesia tercatat sekitar  2,32 juta rumah tangga yang mengusai tanaman sengon dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 59,83 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 25,84 pohon. Dari total sebanyak 59,83 juta pohon sengon , sekitar 24,61 juta pohon atau 41,14 persen diantaranya adalah merupakan tanaman sengon yang siap tebang. Hal ini memberikan indikasi bahwa tanaman sengon di Indonesia sebagian besar masih berumur muda.Sengon


     Sengon- Seperti halnya tanaman akasia, bambu, jati, mahoni dan pinus, tanaman sengon juga lebih banyak di tanam di Jawa yaitu mencapai 50,08 juta pohon  atau sekitar 83,69 % dari total populasi pohon di Indonesia, sedangkan sisanya sekitar 9,76 juta pohon (16,31 %)  berada di luar Jawa. Tanaman sengon di Jawa terkonsentrasi di tiga propinsi berturut-turut adalah di  Jawa Tengah (34,84 %), Jawa Barat (30,62 %) dan Jawa Timur (10,88 %), sementara di Luar Jawa terdapat di dua propinsi yang cukup banyak yaitu di Lampung ( 3,86%) dan Kalimantan Timur(2,20 %).  Meskipun persentase jumlah rumah tangga yang mengusai tanaman sengon di Jawa jauh lebih besar dibanding di Luar Jawa yaitu  mencapai 85,63 persen  dari total Indonesia, tetapi rata-rata pengusaan tanaman  per rumah tangga di Jawa hanya sekitar 25,25 pohon lebih rendah  dibanding dengan rata-rata pengusaan per rumah tangga di Luar Jawa yang mencapai 29,33 pohon.  Demikian juga dengan kondisi tanaman, di Jawa persentase tanaman sengon yang siap tebang terhadap total jumlah pohon seluruhnya hanya 39,10 persen sedangkan di Luar Jawa persentasenya mencapai 51,58 persen.

     Sengon- Rumah tangga  pertanian tanaman sengon (rumah tangga usaha BMU) di Indonesia pada tahun 2003 tercatat sebanyak 406,48 ribu dengan populasi pohon yang diusahakan sebanyak 34,18 juta. Dari 406,48 ribu rumah tangga pertanian sengon, sebagian besar yaitu sekitar 87,44 persen (355,42 ribu) rumah tangga berdomisili di Jawa, sedangkan sisanya sekitar 51,05 ribu di Luar Jawa.  Dari populasi pohon sengon  yang diusahakan sebanyak 34,18 juta, sekitar 53,34 persen atau 18,23 juta pohon diantaranya merupakan tanaman yang siap tebang.   Di Jawa populasi pohon yang diusahakan mencapai 28,70 juta dengan kondisi tanaman yang siap tebang sebanyak 14,21 juta pohon, sementara di Luar Jawa populasi pohon yang diusahakan hanya sekitar 5,48 juta  dimana sekitar 4,03 juta pohon adalah tanaman yang siap tebang.Sengon
http://petanitangguh.blogspot.com/2010/02/sengon.html