Showing posts with label jati. Show all posts
Showing posts with label jati. Show all posts

Untung Ratusan Juta Rupiah dari Investasi Kayu Jati

April 25, 2016

A. Keuntungan Bisnis Investasi Kayu Jati

investasi kayu jati
Untung Ratusan Juta Rupiah dari Investasi Kayu Jati. Berkat kekuatan, keawetan dan keindahannya, kayu jati dipilih sebagai jenis kayu kelas satu di Indonesia. Tidak heran, jika harga jual kayu jati sangatlah mahal. Bahkan, dapat mencapai jutaan rupiah per batang. Selain untuk keperluan domestik, adanya peningkatan ekspor furnitur berbahan kayu jati juga menyebabkan permintaan kayu jati menjadi semakin meroket. Biasanya, permintaan tersebut dipenuhi oleh pasokan kayu jati yang berasal dari perhutani dan kayu rakyat. Namun, hingga saat ini, produksi kayu jati di kedua sumber tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan pasar kayu secara keseluruhan. Karena itu, bertanam kayu jati sangat potensial dipilih sebagai primadona investasi usaha di bidang agroforestry. Tidak heran jika anda bisa meraih untung ratusan juta rupiah dari investasi kayu jati.
Keunggulan Bertanam Jati
  • Jati dapat ditanam di tanah kritis.
  • Jati relatif tahan terhadap kekeringan.
  • Jati relatif tahan terhadap tiupan angin.
  • Tegakan jati lebih hemat lahan.
  • Tegakan jati lebih mudah dalam perawatan dan pemeliharaan.
  • Jati dapat ditanam dengan pola tumpang sari (agroforestry).
  • Jati lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Permintaan kayu jati dan harga kayu jati semakin meningkat.

B. Persiapan Lahan Menanam Kayu Jati

  1. Pilih lahan yang sesuai dengan syarat tumbuh jati, di antaranya ketinggian maksimum 700 m dpl, suhu udara 13—43° C, pH tanah 6, kelembapan lingkungan 60—80%, dan curah hujan 1.000—1.500 mm/tahun. Agar kayu jati yang dihasilkan termasuk kualitas kayu mewah (fancy wood), usahakan jati ditanam di daerah yang memiliki kemarau yang panjang.
  2. Lakukan pembersihan lahan (land clearing) untuk menghilangkan gulma yang tumbuh.
  3. Tentukan titik tanam dengan memasang pancang yang terbuat dari ajir. Pada penanaman jati secara monokultur, jarak tanam idealnya 3 x 3 meter. Sementara untuk pola agroforestry (pola tumpang sari), jarak tanam biasanya menyesuaikan dengan jenis tanaman tumpang sari lainnya.
  4. Buat lubang tanam di tempat yang telah ditentukan. Caranya, gali tanah dengan ukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan kedalaman 30 cm. Setelah digali, lubang tanam dibiarkan terlebih dahulu selama 2—3 hari.

C. Penanaman Bibit Jati

  1. Siapkan bibit jati yang telah memiliki kriteria sebagai berikut.
    - Batang tunggal, kokoh, dan sudah berkayu.
    - Bibit tumbuh tegak, antara diameter dan tinggi tampak seimbang.
    - Tinggi bibit minimum 30 cm.
    - Pucuk sehat, daun segar, serta tidak terserang hama dan penyakit.
    - Akar tanaman sehat dan kuat mengikat media di dalam polibag
  2. Hitung jumlah bibit yang dibutuhkan dengan cara membagi luas lahan dengan jarak tanam yang digunakan. Jika luas lahan yang digunakan 1 ha atau 10.000 m² dan jarak tanam 3 x 3 meter, maka jumlah bibit yang dibutuhkan sebanyak 1.111 bibit. Selain bibit yang ditanam, siapkan juga bibit sulaman maksimum 5% dari jumlah bibit yang ditanam.
  3. Lepaskan polibag dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran dan media tanam bibit. Jika polibag sukar dilepaskan, remas sedikit bagian samping polibag. Usahakan tanah di dalam polibag tidak pecah saat penanaman.
  4. Tempatkan bibit tepat di bagian tengah lubang tanam.
  5. Masukkan kompos atau pupuk kandang sebanyak 5—15 kg per lubang tanam.
  6. Masukkan kembali tanah galian ke dalam lubang tanam. Padatkan sedikit agar bibit tidak mudah roboh.

D. Pemeliharaan Bibit Jati

  1. Jika terdapat bibit yang mati atau rusak setelah penanaman, segera lakukan penyulaman. Bibit sulaman sebaiknya memiliki kualitas yang baik dan umur yang hampir sama dengan yang diganti sehingga pertumbuhan jati tetap seragam.
  2. Lakukan penyiangan terhadap ilalang, gulma, dan tanaman pengganggu lainnya secara intensif pada awal tahun penanaman agar pertumbuhan jati tidak terhambat. Selain itu, penyiangan perlu dilakukan pada awal dan akhir musim hujan.
  3. Lakukan pemupukan menggunakan kompos atau pupuk kandang. Jumlah pupuk yang diberikan biasanya 5—15 kg per lubang tanam pada awal membuat lubang tanam. Selain pupuk alami, gunakan juga pupuk NPK untuk mempercepat pertumbuhan. Lakukan pemupukan hingga tahun ke-3. Dosisnya 50 gram pada tahun ke-1, 100 gram pada tahun ke-2, 150 gram pada tahun ke-3.
  4. Lakukan pemangkasan (pruning) pada cabang untuk meningkatkan tinggi bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama. Caranya, potong cabang batang utama pohon jati. Buatlah potongan tersebut sehalus mungkin, agak miring, dan tidak mendatar. Usahakan pemangkasan menggunakan gergaji atau gunting wiwil. Agar tidak menjadi tempat masuknya hama dan penyakit, bekas pangkasan ditutup dengan cat atau ter.
  5. Untuk pola tanam monokultur, lakukan penjarangan setiap 3—5 tahun sampai pohon berumur 15 tahun. Pohon yang dijarangkan (ditebang) adalah pohon yang terserang penyakit, bentuk batangnya cacat atau tumbuh abnormal, dan pertumbuhannya lambat atautertekan. Selain itu, penjarangan juga dapat dilakukan untuk pohon berukuran besar (siap jual). Penjarangan ini bersifat penjarangan komersial.
  6. Pastikan pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan jenis yang menyerang. Jenis hama yang menyerang jati di antaranya ulat jati, uret, penggerek batang, inger-inger, dan penggerek bubuk kayu basah. Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida sesuai takaran yang dianjurkan. Sementara itu, beberapa penyakit yang biasa menyerang jati di antaranya penyakit layu, penyakit mati pucuk, penyakit jamur upas, dan penyakit kanker batang. Pengendalian penyakit ini biasanya menggunakan fungisida atau bakterisida.
  7. Sebelum hama dan penyakit menyerang, sebaiknya kita melakukan pencegahan. Berikut beberapa tindakan pencegahan hama dan penyakit yang dapat dilakukan.
    - Atur jarak tanam agar jati tetap terkena cahaya matahari dan sirkulasi udaranya baik.
    - Lakukan pemangkasan secara teratur.
    - Lakukan pemupukan untuk memacu pertumbuhan tanaman.
    - Lakukan penyiangan secara rutin agar inang atau carrier hama dan penyakit dapat terbasmi sebelum menulari jati.

E. Pemanenan Kayu Jati

  1. Panen jati saat yang berumur 15—20 tahun atau saat batang utama jati berdiameter sekitar 30 cm.
  2. Lakukan pemanenan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon jati.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainnya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Jati

Kendala
Solusi
Kayu jati retak atau patah setelah panen Satu tahun sebelum dipanen, lakukan teres terlebih dahulu. Teres dilakukan dengan cara membacok sekeliling batang utama lalu membiarkannya. Proses peneresan bertujuan untuk mematikan pohon, mengurangi kadar air. Jika tidak diteres, batang utama berisiko rusak akibat kadar air batang terlalu tinggi.

G. Analisis Biaya Bisnis Investasi Kayu Jati

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi jati selama 15 tahun.
  3. Masa pakai hand sprayer, pompa air, dan wheel barrow diasumsikan selama 5 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-6 dan tahun ke-11.
  4. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4, ke-7, dan ke-13.
  5. Jarak tanam yang digunakan berukuran 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  6. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam jati per 15 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
15
Tahun
30.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
33.690.000

Biaya reinvestasi

Komponen
Investasi


Reinvestasi
tahun
ke-1
Tahun
ke-4
Tahun
ke-6
Tahun
ke-7
Tahun
ke-11
Tahun
ke-13
Sewa lahan
30.000.000
-
-
-
-
-
Hand sprayer
700.000
-
700.000
-
700.000
-
Cangkul
500.000
500.000
-
500000
-
500000
Gembor
240.000
240.000
-
240000
-
240000
Garpu
400.000
400.000
-
400000
-
400000
Pompa air dan selang
1.000.000
-
1.000.000
-
1.000.000
-
Wheel barrow
600.000
-
600.000
-
600.000
-
Ember
250.000
250.000
-
250000
-
250000
Total biaya
33.690.000
1.390.000
2.300.000
1.390.000
2.300.000
1.390.000
Total biaya investasi
42.460.000

Biaya variabel bertanam jati per 15 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit jati
3.000
1.167
Buah
3.501.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
335
Kg
1.005.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
10
HOK
400.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
800
HOK
32.000.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
54.781.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                         = Rp42.460.000 + Rp54.781.000
                                        = Rp97.241.000

c. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare

1. Pendapatan

Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Hasil penjarangan I
50
150.000
7.500.000
Hasil penjarangan II
75
350.000
26.250.000
Hasil panen
370
1.500.000
555.000.000
Total
588.750.000

2. Keuntungan

Keuntungan = Pendapatan—total biaya tahun
                   = Rp588.750.000— Rp97.241.000
                   = Rp491.509.000

Selain bisnis investasi kayu jati, Anda juga dapat membuka lahan bisnis pembibitan pohon jati sehingga perputaran usaha dapat berjalan lebih cepat dengan modal yang relatif kecil, tergantung skala usaha.

Bisnis Pembibitan Jati

April 24, 2016

A. Keuntungan Bisnis Bibit Jati

bisnis pembibitan jati
Bisnis pembibitan jati. Jati merupakan jenis tanaman yang menghasilkan kayu kualitas super. Di pasaran, harga jual jati terbilang tinggi jika dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Karena karakteristiknya tersebut, tanaman ini banyak diminati masyarakat sebagai investasi jangka panjang. Hal ini tentu membuka peluang tersendiri bagi bisnis bibit jati unggul. Selain berpeluang besar, bisnis bibit jati juga memiliki berbagai keunggulan, di antaranya tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas (500 m2 dapat digunakan untuk 10.000 bibit jati), periode panen cepat (hanya 4—5 bulan dari penyemaian), serta perawatan dan pemeliharaan bibit tidak terlalu merepotkan. Pada kondisi tertentu, panen juga dapat dilakukan apabila ada pesanan. Misalnya, pemesanan dari instansi pemerintah atau perusahaan swasta yang menginginkan karakteristik bibit jati tertentu dengan umur panen tertentu.
Modal Terbatas, Tidak Masalah
Secara umum, pelaku bisnis pembibitan dengan lahan dan modal terbatas dapat memulai bisnisnya dengan bermitra atau bekerja sama dengan pebisnis lainnya. Dengan pola ini, pemasaran bibit dapat dilakukan bersama-sama atau menjual bibit kepada perusahaan yang skalanya lebih besar. Dengan demikian, risiko usaha akan berkurang, sedangkan keuntungan tetap dapat maksimal.

B. Menyiapkan Lokasi dan Perlengkapan Pembibitan Jati

  1. Pilih lokasi pembibitan yang sesuai dengan pertumbuhan bibit jati, di antaranya memiliki curah hujan 1.200—2.500 mm/tahun dengan 3—5 bulan kering, dan suhu udara 19—36º C. Selain itu, lokasi juga harus memiliki sumber air cukup. Pasalnya, air memegang peranan penting dalam usaha pembibitan. Sumber air bisa didapatkan dari sungai (air mengalir) atau membuat sumur. Sebaiknya, untuk mengalirkan air ke lahan persemaian setiap pembibit harus memiliki pompa air.
  2. Siapkan sarana dan prasarana berupa bedeng tabur, bedeng sapih, lokasi pengolahan media tanam, tempat karantina, dan pagar pembatas lokasi pembibitan.
  3. Sediakan bahan pembibitan seperti benih jati, pupuk, polibag, media tanam, dan obat-obatan.
  4. Usahakan lokasi pembibitan memiliki akses yang baik dan dapat dilewati kendaraan roda empat. Bayangkan, dalam satu kali proses penjualan bibit, biasanya terjual ratusan bibit yang harus didistribusikan menggunakan kendaraan bak terbuka roda empat. Sementara itu, akses di dalam lokasi persemaian pun harus memiliki jalan kecil di setiap blok. Hal ini untuk memudahkan pengangkutan bibit dari dalam lokasi ke luar lokasi pembibitan atau antarblok di dalam lokasi persemaian.

C. Memulai Pembibitan Jati

  1. Pastikan benih jati yang digunakan berasal dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH). Hal ini bertujuan agar bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan pertumbuhan yang sehat.
  2. Beri perlakuan khusus pada benih untuk memecahkan dormansinya. Caranya, tempatkan benih di dalam wadah dengan alas serasah. Setelah itu, tutup kembali hamparan benih menggunakan serasah. Taburkan spiritus di atas serasah dan bakar hingga api padam. Dinginkan benih selama 24 jam.
  3. Siapkan media tanam berupa tanah, pasir, kompos, dan arang sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1. Tempatkan media semai yang telah tercampur rata ke dalam bak semai yang telah disediakan.
  4. Benamkan benih satu per satu ke dalam media semai.
  5. Setelah bibit berumur 2—3 minggu, kecambah jati dipindahkan ke dalam polibag yang berisi media tanah, kompos, dan arang sekam dengan komposisi 1 : 1 : 1.
Tip Memilih Pohon Induk Sebagai Sumber Benih
Jika benih bersertifikat sulit ditemukan, cara yang paling mudah untuk memeroleh benih adalah dengan menggunakan benih yang berasal dari pohon benih. Pohon benih merupakan pohon induk lokal terbaik yang terdapat yang memang dipilih dan dipelihara untuk menghasilkan benih. Berikut beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan saat memilih pohon benih.
Pohon harus terlihat unggul dibandingkan dengan ? pohon lainnya. Ciri-cirinya, pohon memiliki diameter batang dan tinggi di atas rata-rata, berbatang lurus, batang bebas cabangnya tinggi, tajuknya seimbang, bebas dari hama dan penyakit, serta telah mampu menghasilkan benih (berumur minimum 12 tahun).
  • Hindari memilih pohon benih yang tumbuh sendirian karena dipastikan benih yang dihasilkan merupakan hasil penyerbukan sendiri.
  • Hindari memilih pohon benih yang tumbuh abnormal dan terserang hama dan penyakit.
  • Usahakan benih diperoleh dari minimal 10 pohon induk yang tidak berkerabat dekat.

D. Memelihara Bibit Jati dengan Baik

  1. Lakukan penyiraman untuk menjaga kelembapan media. Sebagai patokannya, bibit jati membutuhkan air sebanyak 20 m3/hektare/hari. Penyiraman dapat dilakukan pada pagi dan sore hari. Jika musim hujan, penyiraman tidak perlu dilakukan.
  2. Siangi gulma dan rumput yang berada di sekitar tanaman bersamaan saat penyortiran kualitas bibit. Tujuannya, untuk menghindari persaingan dalam proses penyerapan makanan. Penyiangan biasanya dilakukan secara manual menggunakan tangan.
  3. Lakukan pemupukan sesuai dengan jenis dan dosis yang dianjurkan. Jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk NPK dengan dosis 3—5 gram/polibag. Sementara itu, untuk bibit muda, pupuk yang digunakan 0,25—0,5 gram/polibag.

E. Pemanenan Bibit Jati

pemanenan kayu jati
  1. Panen bibit saat berumur 4—5 bulan.
  2. Pastikan bibit memenuhi kriteria sebagai berikut.
  •   Media sarang dan akarnya kuat mengikat media di dalam polibag. Jika bibit dicabut dari polibag, media dan akar tetap  menggumpal utuh, tetapi tetap berpori atau tidak padat.
  • Batang tunggal, kokoh, dan sudah berkayu. Bibit tumbuh tegak, antara diameter dan tinggi tampak seimbang. Tinggi bibit minimum 30 cm.
  • Pucuk sehat, daun segar, serta tidak terserang hama dan penyakit.
4. Lakukan pengangkutan saat panen dengan sebaik mungkin. Hindari kondisi daun atau batang tertindih dengan media. Buatkan sungkup agar udara tidak langsung mengenai bibit. Jaga kelembapan di dalam angkutan dengan memberikan air. Waktu pengangkutan bibit maksimum mencapai tujuh hari.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Pembibitan Jati

Kendala

Solusi

Penyimpanan benih yang salah Benih yang telah kering disimpan dalam wadah plastik. Ruang simpan sebaiknya kering dan sejuk. Jika memungkinkan, gunakan ruangan ber-AC. Daya tahan benih jati paling lama 2 tahun.
Sulit memasarkan bibit jati Melalui penjualan langsung dengan mem- buka penjualan di rumah atau di kebun. Selain itu, tawarkan kepada petani-petani yang memiliki kebun. Agar pemasaran lebih efektif, berikan diskon setiap pembelian bibit dalam jumlah tertentu.

G. Analisis Usaha Pembibitan Jati

a. Asumsi

  1. Satu periode pembibitan jati terhitung selama empat bulan.
  2. Lahan yang digunakan merupakan lahan sewa seluas 500 m².
  3. Target produksi sebanyak 10.000 bibit.
  4. Benih yang digunakan merupakan benih bersertifikat seharga Rp850.000/kg.
  5. Persentase berkecambah benih sebesar 70%.
  6. Persentase bibit siap tanam sebesar 80%.
  7. Jumlah butir benih per kg sebanyak 1.500 butir per kg.
Kebutuhan benih  = Target produksi : (persentase berkecambah x persentase bibit siap salur x jumlah butir benih)
                              = 10.000 : (70% x 80% x 1.500)
                              = 11,9 kg
                              = 12 kg
8. Persentase kerusakan polibag sebesar 3%.
9. Jumlah polibag per kg sebanyak 1.000 buah.
Kebutuhan polibag  = (jumlah bibit + (jumlah bibit x persentase kerusakan)) : jumlah polibag/kg
                                 = (10.000 + (10.000 x 3%))/1.000
                                 = 10,3 kg
                                 = 11 kg
10. Media berupa tanah, arang sekam, dan kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
11. Pembelian tanah menggunakan mobil colt berkapasitas 7 m³.

b. Rincian Biaya

Biaya investasi pembibitan jati

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Sewa lahan 500 m2
400.000
1
Tahun
400.000
Paranet
875.000
2
Gulung
1.750.000
Bambu
7.500
25
Batang
187.500
Pembuatan sumur
2.000.000
1
Paket
2.000.000
Pemasangan instalasi listrik
250.000
1
Paket
250.000
Pompa air
750.000
1
Buah
750.000
Sprayer
350.000
1
Buah
350.000
Saung (barak)
1.000.000
1
Paket
1.000.000
Peralatan pertanian
350.000
1
Paket
350.000
Sungkup plastik
300.000
1
Paket
300.000
Total biaya investasi


7.337.500

Biaya tetap pembibitan jati per periode

Komponen
Masa
Pakai
Harga
(Rp)
Perhitungan
Total Biaya (Rp)
Penyusutan sewa lahan
12
400.000
4/12 x Rp400.000
133.333
Penyusutan paranet
36
1.750.000
4/36 x Rp1.750.000
194.444
Penyusutan bambu
12
187.500
4/12 x Rp200.000
62.500
Penyusutan sumur
96
2.000.000
4/96 x Rp2.000.000
83.333
Penyusutan instalasi listrik
60
250.000
4/60 x Rp250.000
16.667
Penyusutan pompa air 48 750.000 4/48 xRp750.000 62.500
Penyusutan sprayer 36 350.000 4/36 x Rp350.000 38.889
Penyusutan saung 60 1.000.000 4/60 x Rp1.000.000 66.667
Penyusutan peralatan pertanian 24 350.000 4/24 x Rp350.000 58.333
Penyusutan sungkup 36 300.000 4/36 x Rp300.000 33.333
Total biaya tetap 750.000

Biaya variabel pembibitan jati per periode

Komponen
Harga Satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya
Polibag
25.000
11
Kg
275.000
Kompos
10.000
50
Karung
500.000
Tanah
300.000
1
Bak
300.000
Arang sekam
10.000
20
Karung
200.000
Benih jati
850.000
12
Kg
10.200.000
Pupuk
3.000
70
Kg
210.000
Pestisida
100.000
1
Kg
100.000
Pembukaan lahan
100.000
1
Borongan
100.000
Biaya listrik
50.000
4
Bulan
200.000
Tenaga pengisian media
50
10.000
Polibag
500.000
Tenaga penyapihan
25
10.000
Polibag
250.000
Biaya tenaga kerja
300.000
4
Bulan
1.200.000
Total biaya variabel


14.035.000

Total biaya operasional  = Total biaya tetap + Total biaya variabel
                                         = Rp733.333 + Rp14.035.000
                                         = Rp14.785.000

c. Pendapatan dan Keuntungan per Periode

1. Pendapatan

Pendapatan  = Jumlah bibit x harga jual
                     = 10.000 bibit x Rp3.000
                     = Rp30.000.000

2. Keuntungan

Keuntungan   = Pendapatan—total biaya operasional
                     = Rp30.000.000—Rp14.785.000
                     = Rp17.215.000

d. Kelayakan Usaha

1. Rasio R/C

Rasio R/C     = Pendapatan : Total biaya operasional
                     = Rp30.000.000 : Rp14.785.000
                     = 2,16
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,16 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,16.

2. Pay Back Period

Pay back period (titik balik modal atau titik impas) adalah perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.
Pay back period   = (Total biaya investasi : keuntungan) x 4 bulan
                              = (Rp7.187.500 : Rp14.785.000) x 4 bulan
                              = 1,7 bulan