Showing posts with label Pestisida Organik. Show all posts
Showing posts with label Pestisida Organik. Show all posts
PESTISIDA

PESTISIDA

February 04, 2010
Pestisida nabati nimba dapat dibuat secara konvensional dengan menggunakan peralatan yang sederhana maupun secara modern. Penggunaan pestisida nabati nimba bersifat ramah lingkungan, karena bahan aktif nimba tidak berbahaya bagi manusia dan hewan peliharaan, serta residu pestisida mudah terurai menjadi senyawa yang tidak beracun. pestisida nabati

Pokok bahasan ini menyajikan cara pembuatan pestisida organik nimba secara konvensional dan aplikasinya. Pembuatan pestisida organik nimba dapat dibuat dalam berbagai bentuk produk, misalnya berupa daun kering, tepung biji, dan ekstrak daun atau biji. Namun, bentuk yang paling banyak digunakan adalah ekstrak bahan segar dan ekstrak bahan kering, serta tepung atau bubuk daun dan biji. Menurut para ahli, dosis umum penggunaan pestisida nabati yang dianjurkan adalah 30 g - 50 g bahan aktif, atau setara dengan 10 kg - 30 kg brji nimba per hektar lahan.


1. Ekstraksi Bahan Segar
Pembuatan ekstrak bahan segar tanaman pestisida nimba dilakukan menurut langkah-langkah
kerja sebagai berikut:

a. Siapkan biji, daun, dan bunga segar  tanaman pestisida nimba sesuai dengan kebutuhan, misalnya sebanyak 50 kg.

b. Biji, daun, dan bunga  tanaman pestisida nimba dihaluskan dengan menggunakan blender atau ditumbuk hingga hancur, sambil ditambah dengan air. Bahan baku nimba sebanyak 25 kg - 50 kg membutuhkan penambahan air sebanyak 1 liter.

c. Campuran bahan baku pestisida organik tersebut disimpan di tempat yang sejuk selama
2 -3 hari.

d. Selanjutnya, campuran disaring dengan menggunakan kain belacu atau perkurator, disertai dengan penambahan air.

e. Penyaringan dilakukan secara terus-menerus sehingga dihasilkan ekstrak sebanyak 400 liter. Larutan atau ekstrak bahan segar nimba siap diaplikasikan sebagai pestisida.

2. Ekstraksi Bahan Kering tanaman pestisida nimba
Pembuatan ekstrak bahan kering nimba dapat dilakukan melalui langkah- langkah kerja sebagai berikut.

a. Siapkan daun, bunga, biji, dan akar tanaman nimba dengan jumlah menurut kebutuhan.

b. Semua bahan tersebut dikeringkan, kemudian ditumbuk atau dilender hingga menjadi bubuk pestisida nabati.

c. Tambahkan sejumlah air, dengan perbandingan 5 liter air untuk l0 kg bubuk kering nimba.

d. Campuran disimpan selama 2 -3 hari.

e. Selanjutnya, campuran pestisida nabati disaring dengan menggunakan kain belacu atau perkurator disertai dengan penambahan air, hingga diperoleh volume ekstrak 4 liter.

f. Ekstrak pestisida nabati bahan kering nimba siap diaplikasikan sebagai pestisida.

3. Bubuk atau Tepung pestisida nabati

Pembuatan bubuk atau tepung pestisida nabati nimba dapat dilakukan melalui langkah-langkah
kerja sebagai berikut:

a. Disiapkan daun, bunga, dan biji nimba sesuai dengan kebutuhan.

b. Semua bahan pestisida nabati tersebut dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar
matahari atau dengan menggunakan oven.

c. Bahan kering ditumbuk hingga halus.

d. Hasil penumbukan disaring dengan menggunakan kain penyaring. Hasil
penyaringan ditampung dalam wadah.

e. Tepung nimba siap diaplikasikan. Jika tidak segera digunakan, tepung
nimba dapat disimpan selama satu tahun tanpa kehilangan daya bunuhnya
terhadap serangga.

Cara penggunaan atau aplikasi bentuk pestisida nimba dengan menggunakan Ekstrak Cair adalah sebagai berikut:

a. Larutan ekstrak nimba disaring dengan menggunakan kain kassa atau
kain belacu untuk menghindari hambatan oleh kotoran pada saat penyemprotan.

b. Larutan ekstrak nimba dimasukkan ke dalam hand sprayer sesuai dengan
kapasitasnya.

c. Selanjutnya, larutan ekstrak disemprotkan setiap serangan hama.pestisida organik
http://petanitangguh.blogspot.com/
PESTISIDA ALAMI MAKIN DIMINATI

PESTISIDA ALAMI MAKIN DIMINATI

January 30, 2010
Pestisida-Kesadaran masyarakat akan dampak negatif pestisida kimia terus berkembang. Sejalan dengan hal tersebut, pengendalian organisme pengganggu tanaman secara arif dan bijaksana juga terus dikembangkan, hingga melahirkan falsafah Pengendalian Organisme Pengganggu Utama Terpadat (Integrated Pest Management). Untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida kimia, dapat digunakan pestisida alami atau bahan-bahan nabati (back to nature). Indonesia cukup kaya akan potensi tanaman penghasil racun untuk  memberantas organisme pengganggu tanaman. Pemanfaatan potensi pestisida alami tersebut dapat diwujudkan melalui teknologi tradisional maupun teknologi modern. Tumbuhan anti hama atau penghasil racun untuk memberantas organisme pengganggu tanaman harus memenuhi kriteria sebagai berikut: merupakan tanaman tahunan; memerlukan sedikit arang, tenaga kerja, pupuk, dan air bukan merupakan tanaman inang atau sumber hama lain; memiliki kegunaan lain selain sebagai pestisida alami; dan bahan anti hama dapat diambil tanpa mematikan tanaman yang bersangkutan.

Menurut Balitro, sampai saat ini, dari sekitar 5.400 jenis tumbuhan yang telah diketahui mengandung bahan pestisida, ternyata baru sekitar 10.000 jenis senyawa metabolit yang telah dapat diidentifftasi. Di Indonesia,diperkirakan terdapat lebih dari 100 jenis tumbuhan yang mengandung bahan pestisida, antara lain tanaman srikaya (Annona grabra dan A. squamosa), tanaman bengkuang (Pachyrhizus qerosus URB), bunga pyrethrum (chrysanthemum cinerariefolium), dan tanaman atau akar ntba (Derris elliptica Benth).

Pengetahuan dan penelitian mengenai pestisida botani tersebut telah banyak dilakukan di negara-negara maju, misalnya Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa. Perlindungan (proteksi) tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida alami (nabati) telah dimulai sejak zaman dahulu. Misalnya, pada zaman Romawi sulfur sudah digunakan sebagai pestisida. Dalam perkembangan selanjutnya, banyak jenis tanaman atau bagian tanaman diketahui dapat menghasilkan racun serangga hama, misalnya ekstrak daun tembakau, pyrethrin dari bunga pyrethrum (Chrysanthemum cinerariae folium) dan ekstrak akar tanaman tuba (Derris elliptica Benth).

Di Indonesia, penggunaan pestisida alami telah berlangsung sebelum tahun 1960-an, ditandai dengan munculnya Revolusi Hijau. Revolusi Hijau dilaksanakan dalam bentuk masukan-masukan bagi proses intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi, dan diversifikasi produk-produk pertanian. Salah satu masukan pestisida alami tersebut adalah pestisida pemberantas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama untuk mengendalikan hama dan penyakit.pestisida alami

Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan pestisida semakin meningkat dengan pesat, baik jenis, dosis, maupun interval pemakaiannya. Di Indonesia, terdapat lebih dari 25 jenis pestisida yang digunakan oleh petani, 16 jenis di antaranya adalah insektisida yang digunakan oleh petani sayuran dataran tinggi. Petani sayuran datatan rendah, misalnya di Kabupaten Tegal dan Brebes, telah menggunakan 15 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman cabai, dan 12 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman bawang merah.

pestisida alami Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Bandung, khususnya di sentra-sentra produksi sayuran dataran tinggi, penggunaan insektisida ditingkat petani sudah sangat intensif, yakni dengan interval penyemprotan antara 1 - 2 kali per minggu dengan konsentrasi antara 0,7% - 0,45%. Pada keadaan tersebut, biaya penggunaan pestisida dalam budi daya sayuran, misalnya kubis mencapai 30%, tomat 50%, dan kentang 40% dari total produksi variabel. Sementara di Kabupaten Tegal dan Brebes, penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2 - 3 hari, dengan volume penyemprotan antara 125 - 900liter/ha tiap aplikasi pada tanaman cabai dan 500 - 1.000 liter/ha pada tanaman bawang merah.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman telah dilakukan secara intensifdan berlebihan, oleh para petani di dataran rendah dan dataran tinggi. Selain merupakan pemborosan, penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan juga menimbulkan berbagai masalah yang serius serta merugikan manusia dan hewan. Konsekuensi penggunaan pestisida kimia secara intensif dan berlebihan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Dapat meracuni manusia dan hewan domestik.

2. Meracuni organisme yang berguna, misalnya musuh alami hama, lebah
dan serangga yang membantu penyerbukan, dan satwa liar yang mendukung
fungsi kelestarian alam.

3. Mencemari lingkungan dengan segala akibatnya, termasuk residu pestisida.

4. Menimbulkan strain hama baru yang resisten terhadap pestisida.

5. Menimbulkan terjadinya resurgensi hama atau peristiwa meningkatnya
populasi hama setelah diperlakukan dengan pestisida tertentu.

6. Menyebabkan terjadinya ledakan hama sekunder dan hama potensial'

7 . Memerlukan biaya yang mahal karena sifat ketergantungan keberhasilan
budi daya tanaman pada pestisida.

Melihat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida kimia dalam upaya penanggulangan hama dan penyakit tanaman, maka perlu dicari teknik pengendalian yang tepat dan aman bagi manusia dan lingkungan, serta mangkus terhadap jasad sasaran. Salah satu komponen pengendalian hama dan penyakit yang saat ini sedang dikembangkan adalah penggunaan pestisida nabati atau senyawa bioaktif alamiah yang berasal dari tumbuhan. Selain menghasilkan senyawa primer (primary metabolite), dalam proses metabolismenya tumbuhan juga menghasilkan senyawa sekunder (secondary metabolite), misalnya fenol, alkaloid, terpenoid, dan senyawa lain. Senyawa sekunder ini merupakan pertahanan tumbuhan terhadap serangan hama.

Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan pestisida semakin meningkat dengan pesat, baik jenis, dosis, maupun interval pemakaiannya. Di Indonesia, terdapat lebih dari 25 jenis pestisida yang digunakan oleh petani, 16 jenis di antaranya adalah insektisida yang digunakan oleh petani sayuran dataran tinggi. Petani sayuran datatan rendah, misalnya di Kabupaten Tegal dan Brebes, telah menggunakan 15 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman cabai, dan 12 jenis insektisida untuk mengendalikan hama-hama tanaman bawang merah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Bandung, khususnya di sentra-sentra produksi sayuran dataran tinggi, penggunaan insektisida ditingkat petani sudah sangat intensif, yakni dengan interval penyemprotan antara 1 - 2 kali per minggu dengan konsentrasi antara 0,7% - 0,45%. Pada keadaan tersebut, biaya penggunaan pestisida dalam budi daya sayuran, misalnya kubis mencapai 30%, tomat 50%, dan kentang 40% dari total produksi variabel. Sementara di Kabupaten Tegal dan Brebes, penyemprotan insektisida dilakukan setiap 2 - 3 hari, dengan volume penyemprotan antara 125 - 900liter/ha tiap aplikasi pada tanaman cabai dan 500 - 1.000 liter/ha pada tanaman bawang merah.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman telah dilakukan secara intensifdan berlebihan, oleh para petani di dataran rendah dan dataran tinggi. Selain merupakan pemborosan, penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan juga menimbulkan berbagai masalah yang serius serta merugikan manusia dan hewan. Konsekuensi penggunaan pestisida secara intensif dan berlebihan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Dapat meracuni manusia dan hewan domestik.

2. Meracuni organisme yang berguna, misalnya musuh alami hama, lebah
dan serangga yang membantu penyerbukan, dan satwa liar yang mendukung
fungsi kelestarian alam.

3. Mencemari lingkungan dengan segala akibatnya, termasuk residu pestisida.

4. Menimbulkan strain hama baru yang resisten terhadap pestisida.

5. Menimbulkan terjadinya resurgensi hama atau peristiwa meningkatnya
populasi hama setelah diperlakukan dengan pestisida tertentu.

6. Menyebabkan terjadinya ledakan hama sekunder dan hama potensial'

7 . Memerlukan biaya yang mahal karena sifat ketergantungan keberhasilan
budi daya tanaman pada pestisida.

Dalam dunia pertanian, pestisida yang berasal dari tanaman mulai dilirik kembali. Indonesia cukup kaya akan potensi alamiah aneka sumber daya tanaman penghasil pestisida alami.

Potensi Tanaman Penghasil Pestisida
Sejak dulu hingga sekarang, pemakaian pestisida merupakan salah satu altematif untuk mengamankan produksi pertanian dunia. Sukses besar yang dicapai dalam pengendalian hama dan penyakit dengan penggunaan pestisida adalah setelah Perang Dunia II, yaitu sebagai awal era baru pemakaian insektisida organik sintetis, misalnya DDT dan BHC. Penggunaan pestisida kimia
memang dapat mengamankan produksi pertanian secara ekonomis, karena pestisida kimia memiliki keunggulan komparatif sebagai berikut:

1. Pestisida alami  Sangat mangkus (efektif)

2. Pestisida alami  Praktis dan luwes, dalam pengertian mudah dikerjakan kapan saja dan
oleh siapa saja, baik pada keadaan rutin ataupun darurat

3. Pestisida alami  Cocok atau kompatibel dengan teknik pengendalian yang lain
PESTISIDA ALAMI (NIMBA)

PESTISIDA ALAMI (NIMBA)

January 25, 2010
Pestisida alami-Tanaman nimba mengandung senyawa bioaktif yang sangat potensial sebagai bahan pembuatan pestisida alami. Pemahaman akan kandungan senyawa bioaktif dan mekanisme kerja pestisida nabati dari tanaman nimba akan menaikkan minat untuk mendayagunakan pestisida alami secara arif
dan bijaksana. Pestisida alami

Pestisida alami-Kandungan Racun dalam Tanaman Nimba Kandungan zat aktif dalam tanaman nimba adalah azadirachtin, salannin, meliantriol, dan nimbin, yang terutama terdapat dalam biji dan daun tanaman. Zat azodirachtin diyakini memiliki daya bunuh terhadap serangga hama. Di India dan Thailand, insektisida dengan bahan aktif azadirochtin sudah tersedia sebagaimana insektisida sintetis di Indonesia.Pestisida alami


Pestisida alami-Daun dan biji nimba mengandung berbagai senyawa kimia, misalnya fenol, quinon, alkaloid dan substansi nitrogen lain, asam-asam, dan terpena. Senyawa yang diyakini sebagai bahan bioaktif pestisida nabati adalah nimbin (nimbinen), thionemon, meliantriol, azadirachtin, dan salannin, yang merupakan senyawa kimia dari kelompok terpena. Selain senyawa-senyawa yang bersifat pestisida, tanaman nimba juga mengandung protein yang tinggi, mencapai l5%, dan serat yang rendah. Bungkil atau limbah tanaman nimba diketahui mengandung nitrogen, fosfor, dan kalium. Hasil pengujian yang dikutip oleh Vijayalakshmi menunjukkan bahwa produk nimba efektif untuk mengendalikan nematoda bengkak akar, baik di laboratorium maupun di lapangan. Hasil pengujian yang sama diperoleh Siebeneicher, yang menggunakan daun segar dan tepung biji nimba untuk mengendalikan M. incognlla. Namun, Johnson menemukan bahwa penggunakan ekstrak kasar nimba 0,2% dan0,4% gagal menekan populasi M. incognita pada tanaman tembakau dan tidak meningkatkan produksi tanaman tersebut. Senyawa azadirachtin dapat menghambat pertumbuhan serangga hama, mengurangi nafsu makan, mengurangi produksi telur dan penetasan, meningkatkan mortalitas, mengaktifkan infertilitas (berfungsi sebagai antifertil), dan menolak hama di sekitar pohon nimba.Pestisida alami

Pestisida alami-Menurut Dr. Ramesh C. Sexena, entomologis IRRI, tanaman nimba sangat potensial sebagai pestisida biologi dalam program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau pengendalian secara biologi, untuk mengurangi atau meminimalkan penggunaan pestisida sintetis. Hasil penelitian yang dilakukan IRRI menunjukkan bahwa 5 aplikasi 25% minyak nimba ultra volume alat 4 liter/ha dapat digunakan dalam proteksi tanaman padi. Di luar negeri, pestisida yang berasal dari tanaman nimba diperdagangkan dengan nama neem oil, margosan, nemazal, dan azatin.
Pestisida Organik

Pestisida Organik

January 21, 2010
Pestisida Organik- Penggunaan pestisida sintetis (kimia) telah menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan. Ketergantungan terhadap penggunaan pestisida sintetis mengakibatkan pengembangan metode-metode lain untuk mengendalikan hama dan penyakit menjadi terlupakan atau bahkan ditinggalkan.


Sebenarnya, usaha tani (agribisnis) tanpa pestisida sintetis bukanlah hal yang mustahil. Harus diakui bahwa teknologi pertanian tradisional (konvensional) merupakan teknologi yang mempunyai peranan besar untuk menjaga




kelestarian lingkungan hidup. Namun, pertambahan jumlah penduduk mengharuskan adanya peningkatan produksi tanaman. 
Pertanian masa depan yang ideal seharusnya memadukan teknologi tradisional dan teknologi modern


yang diaktualisasikan sebagai pertanian berwawasan lingkungan. Salah satu alternatif pengembangan pertanian berwawasan lingkungan adalah dengan menggunakan tanaman-tanaman penghasil pestisida alami,


misalnya tanaman nimba.  
Pestisida Organik  asal nimba mempunyai tingkat efektifitas yang tinggi dan berdampak spesifik terhadap organisme pengganggu. Pestisida Organik- Bahan aktif nimba juga tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Selain itu,  residunya mudah terurai menjadi senyawa yang tidak beracun, sehingga aman atau ramah bagi lingkungan.


Pestisida Organik dalam hal ini membahas tentang tanaman nimba sebagai penghasil pestisida


alami atau pestisida nabati. Para ahli menyatakan bahwa tanaman nimba (Pestisida Organik)


berpotensi sebagai penghasil pestisida alami. Meskipun demikian, perkembangan di lapangan masih terbatas pada fungsi sebagai insektisida. Pokok bahasan dalam topik Pestisida Organik ini mencakup penjelasan mengenai tanaman penghasil pestisida, potensi tanaman nimba sebagai penghasil pestisida alami, cara pembuatan Pestisida Organik dari tanaman nimba, dan penggunaannya (aplikasinya).


Kami berharap tulisan ini dapat menjadi sumber informasi yang berguna bagi semua pihak yang menjadi pelaku pembangunan pertanian dan menjadi acuan bagi pembaca pertanian sekalian.
Pestisida Organik