Showing posts with label sayuran. Show all posts
Showing posts with label sayuran. Show all posts

Bisnis Bertanam Wortel

April 17, 2016

A. Prospek Bisnis Bertanam Wortel

bisnis bertanam wortel
Bisnis Bertanam Wortel. Pilihan tren gaya hidup sehat seperti vegetarian semakin banyak terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Sejak dahulu, wortel dikenal sebagai sayuran yang kaya vitamin A dan baik untuk kesehatan mata. Tidak hanya itu, wortel mengandung enzim pencernaan dan bersifat diuretik. Konsumsi wortel dalam keadaan mentah—
jus atau lalapan—relatif lebih sehat karena kandungan gizinya tidak hilang akibat pemasakan.
Peluang budi daya wortel masih terbuka lebar bagi petani pemula. Melalui teknik budi daya yang tepat, wortel yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Kualitas wortel sangat mempengaruhi serapan pasar. Peluang pasar retail modern akan terbuka lebar seiring kualitas wortel yang tetap baik dan kuantitas hasil panen dapat terjaga. Tentunya, harga yang akan diterima petani jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wortel dengan kualitas standar yang masuk ke pasar tradisional.

B. Persiapan Benih, Pupuk, dan Peralatan Bisnis Bertanam Worter

  1. Pilih benih wortel yang berasal dari varietas unggul, murni, serta memiliki daya kecambah lebih dari 90%. Kebutuhan benih wortel untuk lahan satu hektare sekitar 9 kg.
  2. Rendam benih wortel dalam air dingin selama 12—24 jam atau dalam air hangat dengan suhu 60° C selama 15 menit. Perendaman bertujuan untuk mempercepat proses pengecambahan. Tiriskan benih dalam satu wadah hingga cukup kering. Benih siap untuk ditebar di lahan persemaian.
  3. Siapkan pupuk kandang dengan dosis 20—30 ton/ha.
  4. Siapkan pupuk urea, SP-36, dan KCl dengan jumlah masing-masing 100 kg, 400 kg, dan 150 kg. Jika pH tanah terlalu asam, tambahkan kapur pertanian dengan dosis 75—100 kg/ha.
  5. Siapkan alat pertanian seperti cangkul, garu, kored, ember, dan gembor.
  6. Siapkan alat panen berupa keranjang panen, timbangan, pisau, dan tali rafia.

C. Persiapan Lahan yang Tepat Bertanam Wortel

  1. Siapkan lahan dengan persyaratan seperti tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, serta memiliki saluran drainase dan irigasi yang baik. Wortel dapat tumbuh optimal di ketinggian 1.000—1.200 meter dpl dengan suhu sekitar 20° C dan pH tanah 6—6,8.
  2. Jika pH tanah terlalu asam, tambahkan kapur pertanian dengan dosis 0,75—1 ton/ha di lapisan tanah atas (top soil) sambil digaruk atau dibalik hingga benar-benar merata. Usahakan kondisi tanah agak basah atau lembap.
  3. Bersihkan lahan dari gulma dan sisa tanaman lainnya.
  4. Cangkul tanah sedalam 40 cm, lalu beri pupuk kandang atau kompos dengan dosis 15 ton/ha.
  5. Buat bedengan dengan lebar 120—150 cm, tinggi 30—40 cm, dan jarak antar-bedengan 50—60 cm.
  6. Buat alur atau larikan dengan jarak 20 cm di bedengan.

D. Penanaman dan Pemeliharaan Bertanam Wortel

  1. Sebarkan benih dalam alur atau larikan secara merata, lalu tutup dengan tanah sedalam 0,5—1 cm.
    menanam wortel
  2. Buat alur-alur dangkal berjarak 5 cm dari alur benih untuk pemupukan. Pupuk yang digunakan berupa campuran SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 400 kg dan 150 kg untuk luas satu hektare. Setelah itu, tutup dengan tanah kembali.
  3. Tutup alur dengan daun kering atau pelepah daun pisang selama 7—10 hari untuk mencegah hanyutnya benih akibat air. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga kelembapan tanah. Setelah benih tumbuh, segera buka penutup tersebut.
  4. Saat tanaman berumur satu bulan, lakukan pemupukan dengan urea sebanyak 100 kg/ha. Bersamaan dengan itu, siangi gulma atau tanaman pengganggu lainnya.
  5. Lakukan penyiraman 1—2 kali sehari pada fase awal pertumbuhan wortel. Semakin tua umur wortel, kurangi volume penyiraman. Namun, kondisi lahan jangan sampai kering, usahakan tetap lembap.
  6. Amati tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Lakukan tindakan pencegahan dengan memasang perangkap atau menggunakan pestisida organik untuk mengatasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman.

E. Panen dan Pascapanen Bertanam Wortel

  1. Beberapa hari sebelum panen, lakukan penyiraman secara merata untuk memudahkan pencabutan umbi wortel.
  2. Panen wortel dilakukan pada usia 60—90 hari setelah tanam dengan cara mencabut umbi wortel beserta akarnya. Jika pemeliharaan dilakukan secara intensif, panen wortel dapat menghasilkan 20—30 ton/ha.
  3. Kumpulkan wortel yang sudah dipanen. Penempatan sementara dapat di pinggir kebun atau langsung menuju gudang penyimpanan.
  4. Lakukan sortasi berdasarkan kondisi hasil panen. Pisahkan umbi yang baik dengan umbi cacat, rusak, atau busuk. Setelah itu, kelompokkan umbi wortel yang baik berdasarkan bentuk dan ukuran.
  5. Untuk memudahkan pengangkutan dan penyimpanan, ikat umbi wortel, lalu potong tangkai dan daunnya.
  6. Cuci wortel dengan air mengalir untuk membersihkannya dari tanah yang masih menempel, lalu kering anginkan.
  7. Simpan umbi wortel dalam wadah atau ruangan dengan suhu dingin dan memiliki ventilasi baik.
  8. Untuk komoditas wortel yang ditujukan ke pasar swalayan, lakukan pengemasan menggunakan plastik bening dan beri label.

Bisnis Bertanam Tomat di Lahan Satu Hektare

April 17, 2016

A. Prospek Bisnis Bertanam Tomat

bisnis bertanam tomat
Tomat merupakan salah satu sayuran buah yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Tomat dapat dikonsumsi secara langsung sebagai buah dan jus ataupun sebagai pelengkap dalam masakan. Permintaan masyarakat terhadap komoditas ini cenderung meningkat. Terlebih, permintaan industri pengolahan saus tomat juga meningkat.
Harga tomat agak berfluktuatif. Beberapa waktu telah terjadi kenaikan harga tomat. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya petani yang sedang menggarap tomat, sehingga hasil panen tidak mencukupi untuk kebutuhan dan permintaan dalam negeri. Karena itu, peluang agrobisnis tanaman sayuran seperti tomat juga cukup menjanjikan.

B. Persiapan Perlengkapan Bertanam Tomat

  1. Siapkan benih tomat unggul yang bersertifikat sebanyak 100—120 gram/hektare.
  2. Siapkan kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 ton dan kapur pertanian sebanyak 2 ton.
  3. Siapkan pupuk urea 300 kg, SP-36 300 kg, KCl 250 kg, dan ZA 200 kg. Untuk pupuk susulan, siapkan pupuk NPK sebanyak 400 kg.
  4. Siapkan alat pertanian seperti cangkul, bambu garu, kored, ember, dan gembor.
  5. Siapkan alat panen berupa keranjang panen, timbangan, pisau, dan tali rafia.

C. Persiapan Lahan Menanam Tomat

  1. Pilih lahan dengan tipe tanah gembur, subur, dan mengandung banyak bahan organik.
  2. Lokasi lahan sebaiknya berada di ketinggian 700—1.500 meter dpl dan mendapatkan sinar matahari langsung. Hindari penggunaan lahan bekas tanaman tomat dan tanaman lain yang satu famili seperti cabai, terung, dan tembakau yang telah terserang hama dan penyakit.
  3. Bersihkan lahan dari gulma dan sisa pertanaman sebelumnya.
  4. Jika pH tanah kurang dari 5,8—6,5, taburkan kapur pertanian dengan dosis minimum 2 ton.
  5. Cangkul atau bajak lahan untuk menggemburkan dan membalikkan tanah.
  6. Buat bedengan dengan tinggi 15—20 cm, lebar 110 cm, dan panjang sesuai kondisi lahan. Pisahkan setiap bedengan dengan selokan berukuran 50 cm.
  7. Taburkan pupuk kandang matang di atas bedengan.
  8. Campurkan pupuk sesuai dosis dan taburkan di atas bedengan yang telah dibuat, lalu ratakan.
  9. Cangkul selokan yang berada di kiri dan kanan bedengan sehingga tinggi bedengan menjadi 30—40 cm.
  10. Ratakan tanah di atas bedengan dan pasang mulsa plastik hitam perak.
  11. Buat lubang tanam menggunakan kaleng bekas berdiameter 6—10 cm. Jarak tanam antarbaris sekitar 60—70 cm dan jarak dalam baris sekitar 50—60 cm. Dengan pola tanam seperti ini, jumlah populasi dalam satu hektare sebanyak 16.000—17.000 tanaman.
  12. Lakukan pengairan dengan sistem penggenangan selokan (leb) untuk melarutkan pupuk dan melembapkan tanah sebelum proses penanaman.
  13. Untuk menghindari genangan air saat musim hujan, pastikan drainase terjaga dengan baik dan buat bedengan lebih tinggi dari sebelumnya. Sementara itu, pastikan irigasi mampu mengairi lahan pada musim kemarau.

D. Penyemaian Benih Tomat

cara menanam tomat
  1. Semai benih tiga minggu sebelum jadwal pemindahan ke lahan.
  2. Rendam benih tomat di dalam air hangat selama enam jam. Tiriskan benih, lalu bungkus menggunakan kain lembap yang hangat. Diamkan selama 18 jam.
  3. Siapkan media semai yang terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1.
  4. Masukkan media semai yang telah tercampur rata ke dalam wadah. Wadah dapat menggunakan polibag, tray, gelas plastik, atau nampan plastik.
  5. Tanam benih sebanyak satu benih untuk setiap lubang tanam.
  6. Siram permukaan media menggunakan hand sprayer atau gembor. Penggunaan gembor sebaiknya yang memiliki lubang nozzle yang kecil agar benih tidak berantakan.
  7. Tutup permukaan media menggunakan daun pisang, karung, atau plastik hitam selama 3—4 hari untuk menjaga kelembapan.
  8. Setelah penutup dibuka, lakukan penyiraman secara rutin agar bibit tumbuh optimal.
  9. Cabut dan pisahkan bibit yang mengalami penyakit rebah semai (dumping off) agar tidak menular ke bibit yang lain. Jika serangan cukup parah, lakukan penyemprotan menggunakan Benlate atau Delsene dengan dosis setengah dari yang dianjurkan dalam kemasan.
  10. Lakukan hardening atau uji ketahanan bibit dengan membuka sungkup menjelang pemindahan bibit ke lapangan.
  11. Pemindahan bibit dilakukan setelah 16—18 hari di media semai. Pilih bibit yang sehat, tumbuh normal, dan memiliki jumlah daun sebanyak 3—4 helai.

E. Penanaman dan Pemeliharaan Tomat

  1. Lakukan penanaman bibit tomat pada pagi hari. Penanaman pada siang hari berisiko menyebabkan bibit menjadi stres atau layu. Apabila penanaman tidak selesai pada pagi hari, sebaiknya lanjutkan pada sore hari.
  2. Buat lubang tanam menggunakan batang kayu berdiameter 6—10 cm.
  3. Lepaskan bibit tomat dari tempat penyemaian secara hati-hati. Usahakan media tanam tidak pecah agar perakarannya tidak terganggu.
  4. Masukkan bibit ke dalam lubang tanam. Usahakan tidak ada rongga antara ujung media semai dengan permukaan tanah dalam lubang tanam.
  5. Timbun dengan tanah hingga ketinggian 2—3 cm di bawah daun. Usahakan daun tidak menyentuh permukaan mulsa.
  6. Lakukan penyiraman di sekitar bibit untuk mengurangi tingkat stres bibit dan mempercepat proses adaptasi.
  7. Amati pertumbuhan bibit secara rutin. Jika ada bibit yang mati, segera lakukan penyulaman agar populasi tomat di lapangan tetap seragam.
  8. Lakukan pewiwilan tunas samping yang tumbuh di ketiak daun setelah tiga minggu. Pewiwilan dilakukan sebanyak 2—3 kali hingga terbentuk percabangan utama.
  9. Pasang ajir maksimum tiga minggu setelah tanam. Pengajiran yang terlambat akan merusak akar tanaman.
  10. Pasang ajir untuk menopang tanaman tomat. Ukuran ajir umumnya panjang 225—250 cm dan lebar 3—4 cm. Pasang dua ajir secara miring ke dalam dengan posisi silang. Kedua ajir yang saling berhadapan membentuk huruf “x”. Di titik persilangan, sebaiknya diberi tambahan sebilah bambu memanjang sesuai dengan panjang bedengan. Setelah itu, ikat menggunakan tali rafia tepat di titik persilangan ajir agar lebih kokoh.
  11. Pada umur 10—15 HST, lakukan pemupukan dengan melarutkan NPK sebanyak 5 gram/liter air. Berikan pupuk ke masing-masing bibit tomat sebanyak 200 ml larutan kocoran atau setara dengan satu gelas plastik. Siramkan pupuk di lubang tanam. Usahakan daun tidak terkena larutan untuk menghindari daun layu dan terbakar.
  12. Untuk menunjang fase generatif, lakukan pemupukan kembali menggunakan NPK dengan dosis 50—100 kg/ha, yaitu pada umur 55—60 HST dan 90—95 HST. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara membenamkan pupuk di sekitar lubang tanam.
  13. Pada saat tajuk tumbuh optimal, lakukan pewiwilan daun tua yang berada di bawah cabang utama.
  14. Lakukan seleksi buah. Sisakan 6—8 buah per tandan yang memiliki bentuk sempurna. Biasanya, tanaman tomat memiliki 10—12 buah per tandan.
  15. Lakukan pemangkasan pucuk saat tanaman mencapai ketinggian 220—230 cm.
  16. Jaga sanitasi lahan dengan cara membersihkan gulma serta melakukan antisipasi serangan hama dan penyakit.
  17. Lakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, kondisi lingkungan, dan serangan hama dan penyakit secara rutin.
  18. Apabila serangan melewati ambang batas ekonomi, lakukan penyemprotan pestisida sesuai dengan anjuran yang tepat jenis, dosis, cara, dan waktu aplikasinya.

F. Panen dan Pascapanen Tomat

panen tomat
  1. Umur panen tomat cukup bervariasi, tergantung pada varietas yang digunakan dan, ketinggian lahan. Ratarata umur panen tomat sekitar 75—90 HST. Panen selanjutnya dapat dilakukan 3—5 hari sekali hingga buah habis. Panen buah yang akan dipasarkan jarak dekat (waktu tempuh kurang dari 24 jam) sebaiknya pada tingkat kematangan 70—80%. Sementara itu, buah yang akan dipasarkan jarak jauh (waktu tempuh lebih dari 24 jam) sebaiknya dipanen pada tingkat kematangan 50—60%. Tingkat kematangan dapat ditentukan berdasarkan warna buah.
  2. Panen tomat dengan cara memetik buah beserta tangkainya. Caranya, pegang tangkai buah, lalu tarik ke atas hingga tangkai terlepas dari percabangan. Hindari menarik ke arah bawah karena dapat merusak cabang produktif tanaman. Selain dipetik secara manual menggunakan tangan, pemanenan juga bisa menggunakan alat bantu pisau atau gunting.
  3. Kumpulkan hasil panen ke dalam karung atau keranjang panen dan bawa ke tempat penampungan sementara.
  4. Sebelum penditribusian, bersihkan dan sortasi tomat. Pisahkan tomat yang busuk dan terserang penyakit agar tidak menular pada tomat lainnya. Setelah itu, pisahkan tomat yang bebas hama dan penyakit sesuai grade. Grade A—B merupakan tomat yang memiliki ukuran 80—129 gram per buah. Sementara itu, grade C merupakan tomat yang memiliki ukuran 50—80 gram per buah.
  5. Apabila panen dilakukan setelah hujan, sebaiknya keringanginkan terlebih dahulu tomat yang sudah disortasi agar tidak menyebabkan kebusukan buah.
  6. Kemas tomat ke dalam pengemasan yang telah disiapkan, seperti boks plastik, peti kayu, kardus, karung, atau karung jaring.

G. Kendala dan Solusi Bertanam Tomat

Kendala
Solusi
Tingginya tingkat serangan hama dan penyakit Gunakan varietas unggul tahan hama dan penyakit serta lakukan teknik budi daya dengan manajemen yang baik.
Fluktuasi harga tomat Ikut serta dalam kelompok tani yang memasarkan buah ke supermarket dan industri pengolahan saus tomat.
Musim dan cuaca yang tidak menentu Lakukan perbaikan budi daya dengan cara mencegah dan mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang.

H. Analisis Usaha Agrobisnis Tomat

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan seluas 10.000 m² dengan sistem sewa Rp700.000/bulan.
  2. Periode perhitungan analisis usaha dilakukan setiap enam bulan.
  3. Hasil panen tomat dibedakan menjadi dua grade, yaitu grade A-B sebanyak 30.000 kg dengan harga jual Rp2.000/kg, dan grade C sebanyak 20.000 kg dengan harga jual Rp1.000/kg.

b. Perhitungan Biaya

— Biaya Investasi
Komponen
Satuan
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Alat pertanian
4 set
200.000
800.000
Ember plastik
10 buah
20.000
200.000
Timbangan
2 buah
80.000
160.000
Boks panen
8 buah
100.000
800.000
Gembor
8 buah
75.000
600.000
Sprayer
2 buah
350.000
700.000
Total Biaya Investasi
3.260.000

— Biaya Tetap
Uraian
Masa Pakai Harga (Rp)
Penyusutan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 5.000 m² 6 bulan 700.000
4.200.000
Penyusutan alat pertanian
36 bulan 800.000
4/36 x 800.000
133.333
Penyusutan ember plastik
24 bulan 100.000
4/24 x 200.000
50.000
Penyusutan timbangan 36 bulan 160.000
4/36 x 160.000
26.667
Penyusutan boks panen 36 bulan 500.000
4/36 x 800.000
133.333
Penyusutan gembor 24 bulan 375.000 4/24 x 600.000 150.000
Penyusutan sprayer 60 bulan 350.000 4/60 x 700.000 70.000
Total Biaya Tetap 4.763.333

— Biaya Variabel
Uraian
Satuan
Harga (Rp)
Total Biaya (Rp)
Benih 12 pak
75.000
900.000
Pupuk kandang 10.000 kg
300
3.000.000
Pupuk urea 300 kg
1.400
420.000
Pupuk SP-36 300 kg
1.900
570.000
PupukZA 200 kg
1.200
240.000
PupukKCl 250 kg
1.800
450.000
Pupuk susulan NPK mutiara 400 kg
8.000
3.200.000
Kapur pertanian 2.000 kg
300
600.000
Insektisida 25 liter
150.000
3.750.000
Fungisida 25 kg
70.000
1.750.000
Tali rafia 15 rol
5.000
75.000
Ajir 20.000 batang
150
3.000.000
Sungkup plastik 75 meter
3.000
225.000
Polibag 15 kg
30.000
450.000
Mulsa plastik 11 rol
350.000
3.850.000
Tenaga kerja persemaian 60 HKW
15.000
900.000
Tenaga kerja pengolahan lahan 175 HKP
20.000
3.500.000
Tenaga kerja penanaman 50 HKW
15.000
750.000
Tenaga kerja pemeliharaan 250 HKP
20.000
5.000.000
Tenaga kerja pemeliharaan 200 HKW
15.000
3.000.000
Tenaga kerja panen dan pascapanen
50 HKP
20.000
1.000.000
Tenaga kerja panen dan pascapanen
100 HKW
15.000
1.500.000
Total Biaya Tidak Tetap
38.130.000

Keterangan :  HKW = Hari Kerja Wanita (6 jam sehari)
                        HKP = Hari Kerja Pria (8 jam sehari)
— Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional    = Total biaya tetap + total biaya variabel
                                       = Rp4.763.333+ Rp38.130.000
                                       = Rp42.893.333

c. Pendapatan dan Keuntungan

— Pendapatan per Periode
Pendapatan                             = Jumlah tomat terjual x harga tomat
Pendapatan dari grade A—B  = 30.000 kg x Rp2.000/kg = Rp60.000.000
Pendapatan dari grade C         = 20.000 kg x Rp1.000/kg = Rp20.000.000
Total Pendapatan                    = Rp80.000.000
— Keuntungan per Periode
Keuntungan              = Pendapatan – Total biaya operasional
                                = Rp80.000.000 – Rp42.893.333
                                = Rp37.106.667

d. Kelayakan Usaha

— R/C Rasio
Rasio R/C                = Pendapatan : Total biaya operasioanal
                                = Rp80.000.000 : Rp42.893.333
                                = 1,87
R/C lebih dari satu artinya usaha budi daya tomat layak dijalankan. R/C 1,87 artinya setiap penambahan modal sebesar Rp1 akan memberikan pendapatan sebesar Rp1,87.
— Pay Back Period
Pay back period       = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
                                = (Rp3.260.000 : Rp37.106.667) x 1 bulan
                                = 0,09 bulan
Artinya, titik balik modal usaha budi daya tomat dapat dicapai kurang dari satu bulan (0,09 bulan).

Bisnis Bertanam Terung/Terong

April 17, 2016

A. Prospek Bisnis Bertanam Terung/Terong

bisnis bertanam terung
Bisnis Bertanam Terung. Terung menjadi sayuran yang banyak diminati karena manfaatnya cukup banyak. Tidak hanya dapat dikonsumsi sebagai lalap, terung dapat diolah dan dibuat sayur, sambal goreng, tumisan, hingga terung goreng tepung. Terung memiliki kandungan asam folat, nasunin, flavonoid, dan serat yang tinggi. Terung dapat menurunkan kadar kolesterol, mengatasi diabetes, dan diduga dapat mencegah kerusakan otak bayi di dalam kandungan. Terung juga memiliki antioksidan yang tinggi.
Budi daya terung relatif mudah. Terung dapat tumbuh di mana pun, baik dataran rendah maupun dataran tinggi. Varietas terung yang biasa ditanam di Indonesia di antaranya
terung gelatik, terung bogor, terung hibrida, terung kopek, dan terung medan.

B. Persiapan Benih, Persemaian, Pupuk, dan Peralatan Bertanam Terung

  1. Benih terung dapat diperoleh di toko pertanian yang menjual aneka benih. Pastikan benih yang dipilih merupakan benih bersertifikat dan terjamin kualitasnya.
  2. Sebelum ditanam, lakukan seleksi benih dengan cara memasukkan benih ke dalam air. Benih yang baik adalah benih yang tenggelam. Benih ini dapat langsung disemai.
  3. Buatkan bedeng persemaian dengan ukuran panjang 2 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 30 cm.
  4. Taburkan pupuk kandang secukupnya di bedengan, lalu ratakan dengan tanah. Sebelum ditanami, diamkan selama seminggu.
  5. Taburkan benih di atas bedengan secara berderet, lalu tutup dengan tanah. Buatkan baris tanaman sebanyak 14 baris dalam satu bedengan.
  6. Siram benih setiap pagi dan sore menggunakan gembor.
  7. Ciri bibit yang siap sapih di antaranya telah berumur 1,5 bulan atau telah memiliki empat helai daun.
  8. Taburkan pupuk ke bedengan. Pupuk yang digunakan yaitu urea, SP-36, dan KCl masing-masing sebanyak 40 kg, 25 kg, dan 25 kg. Campurkan pupuk secara merata. Setelah itu, bagi dua campuran pupuk tersebut untuk digunakan dua kali.
  9. Siapkan alat pertanian seperti cangkul, garu, kored, ember, dan gembor. Selain itu, siapkan alat panen berupa keranjang panen, timbangan, pisau, dan tali rafia.

C. Persiapan Lahan yang Tepat Bertanam Terung

  1. Jenis tanah yang optimal untuk lokasi budi daya terung yaitu tanah lempung berpasir, bertipe
    subur, pH 5—6, serta memiliki aerasi dan drainase yang baik. Lokasi budi daya sebaiknya berada di ketinggian maksimum 1.200 meter dpl dengan suhu udara 22—30° C.
  2. Buat bedengan dengan panjang sesuai ukuran lahan yang memiliki lebar 140 cm, dan tinggi 30 cm. Jarak tiap bedengan sekitar 30 cm yang berfungsi sebagai saluran pembuangan atau drainase.
  3. Taburkan pupuk kandang di atas bedengan, lalu campur rata dengan tanah. Untuk lahan seluas 5.000 m² diperlukan 2 ton pupuk kandang. Setelah ditabur pupuk, diamkan selama 1—2 minggu sebelum proses penanaman.

D. Penanaman dan Pemeliharaan Bertanam Terung

  1. Buatkan lubang tanam sedalam 5—7 cm menggunakan tugal dengan jarak tanam 70 x 80 cm.
  2. Pindahkan bibit ke lubang tanam, lalu tutup kembali dengan tanah. Padatkan tanah di sekitar perakaran.
  3. Lakukan penyiraman dua kali sehari saat pagi dan sore hari atau menyesuaikan kondisi cuaca.
  4. Saat musim hujan, perhatikan kondisi saluran pembuangan. Hindari penggenangan air yang berisiko membuat akar menjadi lembap sehingga menimbulkan jamur atau penyakit.
  5. Lakukan pendangiran apabila kondisi tanah sudah mulai padat. Lakukan penyiangan gulma atau tanaman pengganggu lainnya sekitar dua minggu setelah tanam secara rutin.
  6. Lakukan pemupukan pertama saat tanaman berumur dua minggu dengan dosis 50 kg urea, 50 kg SP-36, dan 37,5 kg KCl. Ulangi pemupukan dengan dosis yang sama saat tanaman berumur delapan minggu. Cara aplikasi pupuk dilakukan dengan cara membenamkan pupuk di lubang berjarak 5 cm dari tanaman dengan dosis 15—20 gram/tanaman.

E. Panen dan Pascapanen Bertanam Terung

buah terung terong
  1. Sesuaikan umur panen terung berdasarkan pemanfaatannya. Untuk terung lalapan, lakukan panen pada umur 14—15 minggu setelah tanam. Sementara itu, panen terung untuk sayuran biasanya pada umur 16 minggu. Dalam satu musim tanam, panen terung dapat dilakukan hingga tujuh kali.
  2. Ciri-ciri terung siap panen yaitu hampir 50% jumlah buahnya tampak berisi. Walaupun buah masih terlihat muda, tetapi telah mencapai ukuran maksimal. Saat diraba, bijinya masih keras dan daging buahnya belum liat.
  3. Lakukan panen dengan cara memotong tangkai buah menggunakan gunting setek atau pisau.
  4. Setelah panen, lakukan sortasi dengan cara mengelompokkan terung berdasarkan ukurannya.
  5. Untuk proses distribusi, gunakan keranjang bambu yang telah dilubangi agar terdapat sirkulasi udara sehingga buah tidak cepat busuk. Penyimpanan terung sebaiknya di ruangan bersuhu 10° C.

F. Kendala dan Solusi Bertanam Terung

Kendala
Solusi
Serangan hama kutu daun dan penyakit busuk buah
  1. Bersihkan lahan dari gulma dan tanaman sisa yang berpotensi mem- bawa penyakit.
  2. Musnahkan buah atau tanaman yang terserang.
  3. Gunakan pestisida organik.

G. Analisis Usaha Bertanam Terung

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan seluas 5.000 m² dengan sistem sewa Rp350.000/bulan.
  2. Periode perhitungan analisis usaha dilakukan selama enam bulan.
  3. Jumlah terung hasil panen yang terjual dibedakan menjadi dua grade berdasarkan kualitasnya. Grade A dihargai Rp1.200/kg yang berjumlah 25.000 kg. Sementara itu, grade B dihargai Rp500/kg dengan jumlah hasil panen 10.000 kg.

b. Perhitungan Biaya Bisnis Bertanam Terung

— Biaya Investasi

Komponen
Satuan
Harga (Rp) Jumlah (Rp)
Alat pertanian
2 set
200.000
400.000
Ember plastik
5 buah
20.000
100.000
Timbangan
2 buah
80.000
160.000
Boks panen
5 buah
100.000
500.000
Gembor
5 buah
75.000
375.000
Sprayer
1 buah
350.000
350.000
Total Biaya Investasi
1.885.000

— Biaya Tetap

Uraian
Masa Pakai Harga (Rp)
Penyusutan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 5.000 m² 6 bulan 350.000
2.100.000
Penyusutan alat pertanian 36 bulan 400.000
6/36 x 400.000
66.667
Penyusutan ember plastik 24 bulan 100.000
6/24 x 100.000
25.000
Penyusutan timbangan 36 bulan 160.000
6/36 x 160.000
26.667
Penyusutan boks panen 36 bulan 500.000
6/36 x 500.000
83.333
Penyusutan gembor 24 bulan 375.000
6/24 x 375.000
93.750
Penyusutan sprayer 60 bulan 350.000
6/60 x 350.000
35.000
Total Biaya Tetap
2.430.417

— Biaya Variabel

Uraian
Satuan
Harga (Rp)
Total Biaya (Rp)
Pengolahan tanah hingga siap tanam 5.000 m²
350
1.750.000
Pupuk kandang 2.500 kg
300
750.000
Kapur pertanian 2.000 kg
240
480.000
Pupuk urea 150 kg
1.400
210.000
PupukZA 100 kg
1.200
120.000
Pupuk SP-36 125 kg
1.900
237.500
PupukKCl 100 kg
1.800
180.000
PupukNPK 75 kg
3.500
262.500
Agrobost 3 liter
70.000
210.000
Benih 75 gram
2.400
1.300.000
Biaya persemaian hingga siap tanam 9.500 bibit
40
380.000
Mulsa plastik 11 rol
350.000
3.850.000
Ajir penopang 8.500 batang
150
1.275.000
Tali rafia 10 rol
350.000
3.500.000
Fungisida 8 kg
70.000
560.000
Insektisida 5 kg
150.000
750.000
Uraian Satuan Harga (Rp) Total Biaya (Rp)
Perekat perata 8 liter
20.000
160.000
Tenaga kerja penanaman 25 HKW
12.000
300.000
Tenaga kerja pemupukan 30 HKW
12.000
360.000
Tenaga kerja pasang ajir 5 HKP
15.000
75.000
Tenaga kerja pengikatan tanaman 15 HKW
12.000
180.000
Tenaga kerja penyiangan 20 HKW
12.000
240.000
Tenaga kerja penyiraman 35 HKP
15.000
525.000
Tenaga kerja penyemprotan 25 HKP
15.000
375.000
Tenaga kerja bantuan umum 15 HKP
15.000
225.000
Tenaga kerja panen (borongan) 35.000 kg
75
2.625.000
Tenaga kerja pascapanen (borongan) 35.000 kg
50
1.400.000
Total Biaya Tidak Tetap
17.740.000

Keterangan :   HKW = Hari Kerja Wanita (6 jam sehari)
                         HKP = Hari Kerja Pria (8 jam sehari)
— Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional  = Total biaya tetap + total biaya variabel
                                     = Rp2.430.417 + 17.740.000
                                     = Rp20.170.417

c. Pendapatan dan Keuntungan

— Pendapatan per Periode
Pendapatan              = Jumlah terung terjual x harga jual terung
Penjualan Grade A   = 25.000 kg x Rp1.200/kg = Rp30.000.000
Penjualan Grade B   = 10.000 kg x Rp500/kg = Rp5.000.000
Total Pendapatan     = Rp35.000.000
— Keuntungan per Periode
Keuntungan             = Pendapatan – Total biaya operasional
                               = Rp35.000.000 – Rp20.170.417
                               = Rp14.829.583

d. Kelayakan Usaha

— R/C Rasio
Rasio R/C             = Pendapatan : Total biaya operasioanal
                             = Rp35.000.000 : Rp20.170.417
                             = 1,74
R/C lebih dari satu artinya usaha budi daya terung layak dijalankan. R/C 1,74 artinya setiap penambahan modal sebesar Rp1 akan memberikan pendapatan sebesar Rp1,74.
— Pay Back Period
Pay back period  = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
                           = (Rp1.885.000 : Rp14.829.583) x 1 bulan
                           = 0,12 bulan
Artinya, titik balik modal usaha budi daya terung dapat dicapai kurang dari satu bulan (0,12 bulan).

Bisnis Bertanam Pare

April 17, 2016

A. Prospek Bisnis Bertanam Pare

bisnis bertanam pare
Bisnis Bertanam Pare.  "Pahit menggigit". Dua kata itu sangat tepat untuk mendeskripsikan pare. Meskipun pahit, tetapi penggemarnya tidak sedikit. Justru rasa pahitnya menjadi ciri khas dan memberi "warna" pada masakan. Pare memiliki khasiat positif bagi kesehatan, seperti merangsang nafsu makan, mengatasi penyakit kuning, memperlancar pencernaan, mengatasi malaria, serta sebagai obat cacing dan antikanker.
Jenis pare yang biasa ditanam di Indonesia adalah pare putih dan pare ayam. Budi daya pare sebaiknya dilakukan secara intensif agar kualitas dan kuantitas hasil panen tetap terjaga dengan baik. Ironisnya, petani pare yang menjalankan teknik budi daya intensif masih sangat kurang. Karena itu, budi daya pare hingga saat ini merupakan peluang bisnis yang menggiurkan.

B. Persiapan Benih, Persemaian, Pupuk, dan Peralatan Bertanam Pare

  1. Benih pare dapat dibeli di toko alat dan media pertanian. Pilih benih yang berasal dari perusahaan benih yang kompeten.
  2. Seleksi benih dengan cara merendamnya di dalam air. Benih yang terlihat mengapung memiliki kualitas yang kurang baik. Pilih benih pare yang tenggelam. Kebutuhan benih pare untuk lahan 5.000 m² sekitar 1 kg.
  3. Siapkan bedengan persemaian berukuran panjang 2 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 25 cm. Cangkul tanah hingga gembur dan campurkan dengan 2 kg pupuk kandang.
  4. Sebarkan benih di bedengan membentuk barisan, lalu tutup dengan tanah. Buat jarak antar-barisan sepanjang 10 cm.
  5. Pemindahan bibit ke lahan pada umur dua minggu atau saat bibit telah berukuran 20 cm.
  6. Siapkan pupuk urea, ZA, SP-36, KCl, dan NPK dengan dosis masing-masing 100 kg, 25 kg, 100 kg, 75 kg, dan 25 kg untuk lahan 5.000 m². Siapkan peralatan pertanian seperti cangkul, kored, tugal, ember, gembor, dan bambu untuk pembuatan para-para.

C. Persiapan Lahan yang Tepat Bertanam Pare

  1. Lokasi lahan untuk budi daya pare dapat berada di ketinggian 50—1.500 meter dpl. Kondisi tanahnya memiliki pH 5—6 dengan tekstur gembur dan kaya bahan organik.
  2. Sebelum ditanami, bersihkan lahan dari gulma dan sisa tanaman lainnya.
  3. Tebarkan pupuk kandang 1 ton di bedengan, lalu diamkan sekitar 10 hari sebelum penanaman.

D. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Pare

cara menanam pare
  1. Buat lubang tanam dengan kedalaman 3—5 cm menggunakan tugal. Jarak tanam bibit sekitar 75 x 75 cm.
  2. Masukkan dua bibit pare untuk setiap lubang tanam, lalu tutup lubang tanam dengan tanah.
  3. Siram bibit setiap hari pada pagi dan sore hari. Jika terdapat bibit yang mati, segera lakukan penyulaman.
  4. Saat umur dua minggu, siapkan rambatan untuk tempat tumbuhnya sulur pare. Caranya, potong bambu sekitar dua meter, lalu tancapkan empat buah bambu di sekitar tanaman. Tambahkan bambu membujur dan melintang di bagian atas hingga membentuk bujur sangkar.
  5. Saat umur tiga minggu, lakukan pemangkasan cabang yang berlebihan agar tunas dapat tumbuh menyebar. Setelah itu, saat tanaman berumur enam minggu, lakukan pemangkasan cabang tua dan ranting yang tidak tumbuh lagi.
  6. Pupuk lahan dengan NPK sebanyak 10 gram/tanaman setiap dua minggu. Cara pemberian pupuk dengan melubangi tanah di sekitar pangkal tanaman, lalu taburkan pupuk sesuai dosis.

E. Panen dan Pascapanen Bertanam Pare

buah pare
  1. Panen pare biasanya dilakukan pada umur dua bulan. Ciri buah siap panen di antaranya memiliki bintil-bintil dan keriput yang masih agak rapat dengan alur yang belum melebar. Ukuran ideal pare siap panen sekitar 15—20 cm.
  2. Panen pare dilakukan dengan cara memotong tangkai buah menggunakan pisau atau gunting. Selama satu periode tanam, panen pare dapat dilakukan sebanyak enam kali.
  3. Hasil panen pare dikumpulkan di dalam keranjang bambu untuk didistribusikan. Hindari volume keranjang yang terlalu penuh untuk meminimalisasi kerusakan kulit pare akibat gesekan.
  4. Penyimpanan pare sebaiknya dilakukan di ruangan bersuhu 10—20° C.

F. Kendala dan Solusi Bertanam Pare

Kendala
Solusi
Serangan hama lalat buah
  1. Lakukan pembungkusan buah pare saat masih berukuran batang korek api menggunakan kertas atau daun pisang kering
  2. Gunakan perangkap lalat buah.
  3. Sanitasi lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan benar.
Risiko penyakit embun tepung
  1. Pengaturan jarak tanam dan drainase yang baik.
  2. Membuang dan memusnahkan bagian tanaman pare yang terserang.

G. Analisis Usaha Bertanam Pare

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan seluas 5.000 m² dengan sistem sewa Rp350.000/bulan.
  2. Periode perhitungan analisis usaha dilakukan selama empat bulan.
  3. Jumlah pare hasil panen yang terjual dibedakan menjadi dua grade berdasarkan kualitasnya. Grade A dihargai Rp3.500/kg yang berjumlah 5.000 kg. Sementara itu, grade B dihargai Rp1.500/kg dengan jumlah hasil panen 5.000 kg.

b. Perhitungan Biaya Bertanam Pare

— Biaya Investasi

Komponen
Satuan
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Alat pertanian
2 set
200.000
400.000
Ember plastik
5 buah
20.000
100.000
Timbangan
2 buah
80.000
160.000
Boks panen
5 buah
100.000
500.000
Gembor
5 buah
75.000
375.000
Sprayer
1 buah
350.000
350.000
Total Biaya Investasi
1.885.000

— Biaya Tetap

Uraian
Masa Pakai Harga (Rp)
Penyusutan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 5.000 m² 4 bulan 350.000
1.400.000
Penyusutan alat pertanian 24 bulan 400.000
4/24 x 400.000
66.667
Penyusutan ember plastik 16 bulan 100.000
4/16 x 100.000
25.000
Penyusutan timbangan 24 bulan 160.000
4/24 x 160.000
26.667
Penyusutan boks panen 24 bulan 500.000
4/24 x 500.000
83.333
Penyusutan gembor 16 bulan 375.000
4/16 x 375.000
93.750
Penyusutan sprayer 40 bulan 350.000
4/40 x 350.000
35.000
Total Biaya Tetap
1.730.417

— Biaya Variabel

Uraian
Satuan
Harga (Rp)
Total Biaya (Rp)
Pengolahan tanah hingga siap tanam 5.000 m² 210 1.050.000
Pupuk kandang 1.500 kg 300 450.000
Kapur pertanian 500 kg 240 120.000
Pupuk urea 100 kg
1.400
140.000
PupukZA 25 kg
1.200
30.000
Pupuk SP-36 100 kg
1.900
190.000
PupukKCl 75 kg
1.800
135.000
PupukNPK 25 kg
3.500
87.500
Agrobost 3 liter
70.000
210.000
Benih 1.000 gram
1.300
1.300.000
Biaya persemaian hingga siap tanam 5.500 bibit
40
220.000
Mulsa plastik 2 rol
350.000
700.000
Bambu 1.000 batang
4.000
4.000.000
Tali rafia 5 rol
8.000
40.000
Fungisida 4 kg
70.000
280.000
Insektisida 4 kg
150.000
600.000
Ajir 12.500 batang
150
1.875.000
Tenaga kerja penanaman 10 HKW
12.000
120.000
Tenaga kerja pemupukan 20 HKW
12.000
240.000
Tenaga kerja pasang para-para 25 HKP
15.000
375.000
Tenaga kerja pengikatan tanaman 10 HKW
12.000
120.000
Tenaga kerja penyiangan 20 HKW
12.000
240.000
Tenaga kerja penyiraman 20 HKP
15.000
300.000
Tenaga kerja penyemprotan 12 HKP
15.000
180.000
Tenaga kerja bantuan umum 15 HKP
15.000
225.000
Tenaga kerja panen (borongan) 5.000 kg
75
375.000
Tenaga kerja pascapanen (borongan) 5.000 kg
50
250.000
Total Biaya Tidak Tetap
13.852.500

Keterangan :   HKW = Hari Kerja Wanita (6 jam sehari)
                         HKP = Hari Kerja Pria (8 jam sehari)
— Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional   = Total biaya tetap + total biaya variabel
                                      = Rp1.730.417 + Rp13.852.500
                                      = Rp15.582.917

c. Pendapatan dan Keuntungan

— Pendapatan per Periode
Pendapatan             = Jumlah pare terjual x harga jual pare
Penjualan Grade A  = 5.000 kg x Rp3.500/kg = Rp17.500.000
Penjualan Grade B  = 5.000 kg x Rp1.500/kg = Rp7.500.000
Total Pendapatan    = Rp25.000.000
— Keuntungan per Periode
Keuntungan               = Pendapatan – Total biaya operasional
                                 = Rp25.000.000 – Rp15.582.917
                                 = Rp9.417.083

d. Kelayakan Usaha

— R/C Rasio
Rasio R/C                 = Pendapatan : Total biaya operasioanal
                                 = Rp25.000.000 : Rp15.582.917
                                 = 1,6
R/C lebih dari satu artinya usaha budi daya pare layak dijalankan. R/C 1,6 artinya setiap penambahan modal sebesar Rp1 akan memberikan pendapatan sebesar Rp1,6.
— Pay Back Period
Pay back period        = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
                                 = (Rp1.885.000 : Rp9.417.083) x 1 bulan
                                 = 0,2 bulan
Artinya, titik balik modal usaha budi daya pare dapat dicapai kurang dari satu bulan (0,2 bulan).

Bisnis Bertanam Oyong

April 17, 2016

A. Prospek Bisnis Bertanam Oyong

bisnis bertanam oyong
Bisnis Bertanam Oyong. Oyong atau gambas berbentuk lonjong dan sering dikonsumsi sebagai sayur bening. Masyarakat menyukai oyong karena efek dingin yang ditimbulkannya. Jenis oyong yang biasa ditanam di Indonesia adalah gambas atau oyong dan belustru. Selain diolah sebagai sayuran, oyong juga memiliki khasiat yang menyehatkan, seperti mengatasi diabetes, radang usus, asma, radang tenggorokan, cacingan, melancarkan peredaran darah, hingga memperlancar ASI. Budi daya oyong relatif mudah dan praktis. Salah satu keunggulan budi daya oyong adalah tidak perlu pengolahan tanah yang terlalu intensif sehingga dapat menghemat tenaga dan biaya.

B. Persiapan Benih, Pupuk, dan Peralatan Bertanam Oyong

  1. Benih oyong dapat dibuat sendiri atau membeli dari toko media pertanian. Jika membuat benih sendiri, caranya pilih oyong yang sudah tua berada di pohon untuk diambil buahnya. Pilih buah yang sehat, berproduksi cukup banyak, memiliki bentuk normal, serta tidak terdapat bekas serangan hama dan penyakit.
  2. Keluarkan biji dari buahnya, lalu jemur biji tersebut di bawah sinar matahari pada pukul 07.00—11.00 atau pada sore harinya, setelah pukul 13.00.
  3. Seleksi benih dengan merendam benih dalam air. Pilih benih yang tenggelam. Sementara itu, benih yang mengapung tidak perlu digunakan karena kualitasnya kurang baik.
  4. Siapkan pupuk NPK, ZA, SP-36, KCl, dan urea masingmasing sebanyak 25 kg, 25 kg, 100 kg, 75 kg, dan 100 kg.
  5. Siapkan cangkul, tugal, kored, ember, gembor, dan bilah bambu untuk membuat para-para.

C. Persiapan Lahan yang Tepat untuk Bertanam Oyong

  1. Ciri kondisi tanah optimal untuk budi daya oyong di antaranya subur, gembur, dan memiliki pH 6—7.
  2. Bersihkan lahan dari gulma atau sisa tanaman yang mengganggu. Hal ini juga berfungsi untuk memancing cendawan penyebab penyakit.

D. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Oyong

cara menanam pare
  1. Buat lubang tanam dengan cara mencangkul tanah sedalam 20 cm dan lebar 25 cm. Jarak antara lubang tanam sekitar 50 cm. Sementara itu, jarak antar-baris 2 meter.
  2. Taburkan pupuk kandang sebanyak 1 kg/lubang, lalu diamkan lubang tanam selama satu hari.
  3. Masukkan dua benih oyong ke dalam lubang tanam, tutup dengan tanah tipis.
  4. Lakukan penyiraman setiap pagi dan sore hari.
  5. Lakukan penyiangan gulma dua minggu sekali. Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur dua minggu.
  6. Ketika tinggi oyong sekitar 50 cm, buatkan para-para sebagai tempat merambat. Para-para terbuat dari bambu setinggi 1,5 meter. Tancapkan empat bambu di masing-masing sisi area tanam, lalu bagian atas bambu dihubungkan dengan bambu-bambu lainnya sehingga membentuk kotak-kotak.
  7. Saat tanaman berumur 2—3 minggu, lakukan pemotongan tunas air dan dedaunan yang terlalu rimbun menggunakan pisau setek. Selain itu, pangkas cabang tua yang tidak tumbuh memanjang.
  8. Lakukan pemupukan secara bertahap. Pemupukan pertama dilakukan pada umur dua minggu. Setelah itu, lakukan pemupukan kembali pada minggu ke- 4, ke-6, dan ke-8 dengan dosis seperlima dari total dosis pemupukan sebelumnya. Pemupukan dilakukan dengan membuat lubang yang berjarak 5 cm dari tanaman. Masukkan pupuk ke lubang, lalu tutup kembali dengan tanah.

E. Panen dan Pascapanen Bertanam Oyong

  1. Oyong siap panen pada umur 2—3 bulan. Ciri fisik oyong siap panen di antaranya berukuran sekitar 20 cm atau lebih, berwarna hijau, dan memiliki tekstur kenyal. Panen oyong harus tepat waktu. Jika panen terlalu tua, oyong akan berserat.
  2. Lakukan pemanenan pada pagi atau sore hari. Caranya, potong pangkal buah menggunakan pisau atau gunting setek.
  3. Agar tidak mudah rusak saat pengangkutan, lakukan pengemasan oyong menggunakan keranjang bambu yang memiliki ventilasi udara.
  4. Simpan oyong di ruangan dingin bersuhu 10—20° C agar tidak cepat busuk.

F. Kendala dan Solusi Bertanam Oyong

Kendala
Solusi
Hama ulat daun
  1. Sanitasi lahan
  2. Pasang perangkap kupu-kupu di beberapa lokasi
Tungau
  1. Gunakan mulsa plastik hitam perak
  2. Jika sudah terserang, pindahkan oyong yang berdekatan dengan tanaman yang terserang
Penyakit embun bulu
  1. Perbaiki saluran drainase
  2. Sanitasi kebun secara teratur

G. Analisis Usaha Bertanam Oyong

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan seluas 5.000 m² dengan sistem sewa Rp350.000/bulan.
  2. Periode perhitungan analisis usaha dilakukan selama empat bulan.
  3. Jumlah oyong hasil panen yang terjual dibedakan menjadi dua grade berdasarkan kualitasnya. Grade A dihargai Rp2.500/kg yang berjumlah 7.500 kg. Sementara itu, grade B dihargai Rp1.000/kg dengan jumlah hasil panen 7.500 kg.

b. Perhitungan Biaya Bertanam Oyong

— Biaya Investasi

Komponen
Satuan
Harga(Rp)
Jumlah (Rp)
Alat pertanian
2 set
200.000
400.000
Ember plastik
5 buah
20.000
100.000
Timbangan
2 buah
80.000
160.000
Boks panen
5 buah
100.000
500.000
Gembor
5 buah
75.000
375.000
Sprayer
1 buah
350.000
350.000
Total Biaya Investasi
1.885.000

— Biaya Tetap

Uraian
Masa Pakai Harga (Rp)
Penyusutan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 5.000 m² 4 bulan 350.000
1.400.000
Penyusutan alat pertanian 24 bulan 400.000
4/24 x 400.000
66.667
Penyusutan ember plastik 16 bulan 100.000
4/16 x 100.000
25.000
Penyusutan timbangan 24 bulan 160.000
4/24 x 160.000
26.667
Penyusutan boks panen 24 bulan 500.000
4/24 x 500.000
83.333
Penyusutan gembor 16 bulan 375.000 4/16 x 375.000 93.750
Penyusutan sprayer 40 bulan 350.000 4/40 x 350.000 35.000
Total Biaya Tetap 1.730.417

— Biaya Variabel

Uraian
Satuan
Harga (Rp)
Total Biaya (Rp)
Pengolahan tanah 5.000 m²
210
1.050.000
Pupuk kandang 1.500 kg
300
450.000
Kapur pertanian 500 kg
240
120.000
Pupuk urea 100 kg
1.400
140.000
PupukZA 25 kg
1.200
30.000
Pupuk SP-36 100 kg
1.900
190.000
PupukKCl 75 kg
1.800
135.000
PupukNPK 25 kg
3.500
87.500
Agrobost 3 liter
70.000
210.000
Benih 1.000 gram
1.300
1.300.000
Biaya persemaian 5.500 bibit
40
220.000
Mulsa plastik 2 rol
350.000
700.000
Bambu 1.000 batang
4.000
4.000.000
Tali rafia 5 rol
8.000
40.000
Fungisida 4 kg
70.000
280.000
Insektisida 4 kg
150.000
600.000
Perekat perata 4 liter
20.000
80.000
Tenaga kerja penanaman 10 HKW
12.000
120.000
Tenaga kerja pemupukan 20 HKW
12.000
240.000
Tenaga kerja pasang para-para 25 HKP
15.000
375.000
Tenaga kerja pengikatan tanaman 10 HKW
12.000
120.000
Tenaga kerja penyiangan 20 HKW
12.000
240.000
Tenaga kerja penyiraman 20 HKP 15.000 300.000
Tenaga kerja penyemprotan 15 HKP 15.000 180.000
Tenaga kerja bantuan umum 12 HKP 15.000 225.000
Tenaga kerja panen (borongan) 15.000 kg 75 1.125.000
Tenaga kerja pascapanen (borongan) 15.000 kg 50 750.000
Total Biaya Tidak Tetap 13.307.500

Keterangan :   HKW = Hari Kerja Wanita (6 jam sehari)
                         HKP = Hari Kerja Pria (8 jam sehari)
— Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional  = Total biaya tetap + total biaya variabel
                                     = Rp1.730.417 + Rp13.307.500
                                     = Rp15.037.917

c. Pendapatan dan Keuntungan Bertanam Oyong

— Pendapatan per Periode
Pendapatan               = Jumlah oyong terjual x harga jual oyong
Penjualan Grade A    = 7.500 kg x Rp2.500/kg = Rp18.750.000
Penjualan Grade B    = 7.500 kg x Rp1.000/kg = Rp7.500.000
Total Pendapatan      = Rp26.250.000
— Keuntungan per Periode
Keuntungan              = Pendapatan – Total biaya operasional
                                = Rp26.250.000 – Rp15.037.917
                                = Rp11.212.083

d. Kelayakan Usaha Bertanam Oyong

— R/C Rasio
Rasio R/C                = Pendapatan : Total biaya operasioanal
                                = Rp26.250.000 : Rp15.037.917
                                = 1,75
R/C lebih dari satu artinya usaha budi daya oyong layak dijalankan. R/C 1,75 artinya setiap penambahan modal sebesar Rp1 akan memberikan pendapatan sebesar Rp1,75.
— Pay Back Period
Pay back period       = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
                                = (Rp1.885.000 : Rp11.212.083) x 1 bulan
                                = 0,17 bulan
Artinya, titik balik modal usaha budi daya oyong dapat dicapai kurang dari satu bulan (0,17 bulan).