Showing posts with label tips tanaman. Show all posts
Showing posts with label tips tanaman. Show all posts

Pengendalian dan Membasmi Hama Tanaman Mangga

April 06, 2016
Pengendalian dan Membasmi Hama Tanaman Mangga
Hama dan penyakit dapat menyerang tanaman mangga mulai dari fase pembibitan sampai tanaman menghasilkan buah. Pemeliharaan tanaman yang kurang baik dapat mengakibatkan peningkatan serangan hama atau penyakit. Tanaman yang terserang hama atau penyakit biasanya ditandai dengan bagian tubuh yang rusak akibat patah atau keropos serta pertumbuhannya terhambat. Akar, daun, batang, bunga dan buah merupakan bagian tanaman mangga yang sering terserang hama dan penyakit.

Serangan hama atau penyakit dapat ditanggulangi dengan membuang bagian-bagian yang terserang, lalu membakarnya. Pestisida juga perlu diberikan untuk mencegah serangan terjadi kembali. Penyemprotan pestisida dapat dilakukan setiap dua minggu sekali dengan dosis dan waktu yang tepat. Penyemprotan pestisida yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap proses penyerbukan bunga akibat serangga penyerbuknya mati.

Menjaga kebersihan lingkungan di sekitar tanaman dan penggunaan bibit yang tahan hama penyakit dapat mencegah terjadinya serangan. Berikut beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman mangga dan cara pengendaliannya.

A. Hama

a. Kutu Putih (Planococcus lilacinus)

Karakteristik
Berbentuk oval, datar, tubuhnya ditutupi lapisan tebal seperti lilin, sering hinggap di daun dan mengisap cairan sel daun.
Gejala Serangan
Daun menjadi kering dan gugur. Kutu putih menjadi penyebab munculnya penyakit embun jelaga yang menyerang pada saat musim hujan.
Pengendalian
1. Kendalikan semut merah yang menjadi vektor kutu putih dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif lambdacyhalothrin atau delmetrin, seperti Lebaycid 550 dengan dosis 0,2% atau sipermetrin, seperti Arrivo 30 EC dengan dosis 2,4 gram setiap satu liter air.
2. Buang dan bakar daun atau cabang yang terserang.
3. Semprotkan Insektisida berbahan aktif lambdacy-halothrin atau delmetrin, seperti Lebaycid 550 dengan dosis 0,2%.

b. Lalat buah (Dacus dorsalis)

Karakteristik
Lalat buah dewasa berukuran panjang 7—8 mm, berwarna kuning, dan bersayap putih bening. Serangga ini sering menghinggapi buah mangga dan bertelur. Serangan biasanya terjadi pada saat buah mulai muncul.
Gejala Serangan
Terdapat titik-titik hitam di permukaan buah akibat tusukan lalat buah. Produktivitas mangga menurunan karena banyak bagian daging buah yang membusuk dan gugur. Telur yang menempel di permukaan buah akan berubah menjadi larva yang akan merusak daging buah.
Pengendalian
1. Jaga kebersihan lingkungan, melakukan pengasapan, atau menanam tanaman perangkap di sekitar mangga, seperti selasih.
2. Bungkus buah dengan plastik atau kertas.
3. Pasang perangkap lalat buah yang diberi Petrogenol 800 L.
4. Memanfaatkan musuh alami, seperti parasitoid dari famili Braconidae (Bioteres sp. dan Opius sp.).

c. Rayap (Nasutitermes sp.)

Karakteristik
Rayap menyerang tanaman mangga dengan membuat sarang di dalam tanah sampai batang tanaman di atas permukaan tanah. Sarang yang dibuat akan tampak seperti terowongan bila dilihat dari luar.
Gejala Serangan
Rayap biasanya hanya memakan bagian akar tanaman mangga yang sudah mati, tetapi cairan yang dihasilkannya dapat mempercepat kematian kulit batang, sehingga dapat memperluas serangannya.
Pengendalian
1. Jaga kebersihan lingkungan di sekitar tanaman. Buang sisa-sisa ranting, sampah, dan bongkol kayu.
2. Gali dan buang bagian tanaman yang terserang.
3. Bongkar sarang rayap, lalu semprotkan insektisida seperti Regent SC atau taburkan nematisida seperti Furadan 3 G dalam media tanam.

d. Penggerek Batang (Rhytidodera rufomaculata)

Karakteristik
Berupa ulat yang menggerek batang atau cabang hingga terbentuk lubang dan mengakibatkan keropos. Hama ini biasanya menyerang saat musim hujan. larva (ulat) yang akan menggerek batang atau cabang sampai ke bagian tengah batang dan membentuk lubang seperti lorong-lorong. Tingkat serangan yang tinggi akan menyebabkan jaringan pembuluh kayu (xylem) rusak dan mengering, sehingga pendistribusian hasil fotosintesis terputus. Tanaman menjadi layu, daunnya rontok, dan akhirnya mati.
Pengendalian
1. Meletakkan batang katu di dekat pohon sebagai perangkap agar kumbang bertelur di kayu, bukan di batang mangga.
2. Buang dan bakar cabang yang terserang hama.
3. Manfaatkan musuh alami berupa parasit telur, seperti Promuscidaea, Anagyrus, dan Eupelmus. Biakkan dan tebar parasit tersebut di sekitar tanaman dapat dilakukan untuk menekan pertumbuhan telur
4. Semprotkan pestisida berbahan aktif mancozeb, betasiflutrin, dan karbufuron, seperti Buldok 25 EC dengan dosis 2 ml/liter air.

e. Penggerek Buah (Noorda albizonalis Hampson)

Karakteristik
Ulat berwarna hijau keunguan, dengan panjang serangga dewasanya 1,6—2 mm. Serangga dewasa biasanya aktif pada sore hari. Serangga dewasa mengisap buah mangga dan menusuk buah untuk meletakkan telur-telurnya. Hama ini biasanya menyerang buah yang masih berukuran kecil (55—60 hari setelah muncul buah).
Gejala serangan
Adanya bintik-bintik di permukaan buah yang merupakan bekas tusukan serangga dewasa untuk meletakkan telur. Telur tersebut berubah menjadi larva yang akan menggerek buah dan memakan jaringan di bawah kulit buah. Buah yang terkena serangan akan menjadi rusak dan berguguran.
Pengendalian
1. Petik buah yang diserang, lalu benamkan dalam tanah.
2. Bungkus buah yang masih berukuran kecil menggunakan plastik atau kertas koran.
3. Gunakan musuh alami berupa larva Rhynchium attrisum
4. Semprotkan insektisida berbahan aktif ethofenprox atau deltametrin seperti Decis 2,5 EC atau yang berbahan aktif Betasilflutrin seperti Buldok 25 EC dengan dosis 2 ml/liter yang diaplikasikan pada sore hari.

B. Penyakit

a. Antraknosa (Colletotrichum gloeosprorioides)

Karakteristik
Disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosprorioides. Penyakit antraknosa tidak hanya menyerang tanaman mangga selama masa pertumbuhan, tetapi juga selama proses penyimpanan setelah panen. Antraknosa biasanya menyerang pada awal musim hujan. Selama masa pertumbuhan, antraknosa biasanya menyerang tanaman mangga di bagian daun muda, batang, bunga, dan buah.
Gejala serangan
Di daun terdapat bercak bulat hingga angular berwarna cokelat dan kelabu di tengahnya, kadang-kadang berlubang (shot hole) dan berwarna kuning di bagian tepi. Daun yang terserang akan mengering dan akhirnya gugur. Batang muda yang terserang antraknosa ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna cokelat kelabu membentuk gelang. Gejala di bagian bunga ditandai dengan adanya bercak kecil berwarna hitam yang dapat menyebabkan bunga rontok. Gejala di bagian buah ditandai dengan adanya bercak hitam di bagian kulit buah yang kemudian membesar dan mengakibatkan buah membusuk
Pengendalian
1. Memusnahkan gulma, membakar daun-daun yang gugur, dan rutin melakukan pemangkasan setelah panen atau sebelum muncul tunas baru.
2. Memperbaiki draenase kebun.
3. Semprotkan fungisida dengan komposisi mancozeb 0,25% + dicotophos 0,2% + pupuk daun 2 gram/liter air. Penyemprotan dilakukan sejak tunas bunga terbentuk hingga masa pemasakan buah dalam selang waktu 7—10 hari. Fungisida lain yang dapat diberikan di antaranya Dithane M 45, Benlate, dan Antracol 70 WP.

b. Penyakit Busuk Akar (Rosellina bunodes)

Karakteristik
Rosellina bunodes menyerang akar tanaman mangga dengan membentuk miselium berwarna hitam yang dapat menyebabkan perakaran membusuk. Penyakit busuk akar menular melalui kontak antara akar yang terserang dengan akar yang sehat.

Gejala serangan
Daun paling ujung berwarna kuning dan berukuran lebih kecil, cabang-cabang mengering, dan pertumbuhan tunas terhambat. Akar yang terserang penyakit ini tidak akan mampu menyerap unsur hara secara maksimal.
Pengendalian
1. Sterilisasi media tanam menggunakan Ridomil 2 G, Basamid G, atau Vapan.
2. Jika tingkat serangan tidak terlalu parah, dapat buka akar yang berada dekat permukaan tanah, lalu potong bagian akar yang sakit. Olesi bekas potongan dengan obat penutup luka, berupa ter atau karbolineum parafin.
3. Jika telah parah, bongkar segera tanaman, lalu bakar untuk menghindari penularan ke tanaman lainnya.

c. Embun Jelaga (Capnodium mangiferae)

Karakteristik
Menyerang bagian daun dan ranting tanaman mangga. Cairan madu yang dikeluarkan oleh hama—seperti kutu putih, kutu sisik, atau wereng—merupakan makanan bagi cendawan Capnodium mangiferae.
Gejala serangan
Cendawan embun jelaga menyebabkan warna hitam di permukaan daun dan ranting. Tingkat serangan yang tinggi dapat menyebabkan hampir seluruh permukaan daun dan ranting berwarna hitam. Hal ini mengakibatkan proses fotosintesis terganggu, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu

Pengendalian
1. Memberantas hama yang mengeluarkan cairan madu, sumber makanan cendawan. Semprotkan pestisida atau buang menggunakan tangan. Buang dan bakar daun atau ranting yang terserang.
2. Buang bagian tanaman yang terserang, lalu bakar.
3. Semprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb, seperti Dithane M-45, Vondozeb 80 WP, Nemispor 80 WP, atau Trimiltox 65 WP.

d. Penyakit Busuk Buah (Psedomonas mangifera indica)

Gejala serangan
Adanya bercak kecil yang kemudian membesar dan mengalami perubahan warna, dari hijau, kuning kehijauan, kuning, dan akhirnya cokelat atau hitam. Serangan penyakit busuk buah mematikan jaringan penyusun organ (gejala nekrosa), sehingga menyebabkan buah membusuk. Penyakit ini juga dapat menyerang bagian tanaman lainnya, seperti daun muda, batang muda, dan tangkai daun.
Pengendalian
1. Menjaga sanitasi di sekitar lingkungan tanaman melalui pemangkasan yang teratur untuk menjaga kelembapan tanaman.
2. Buang dan bakar buah yang terserang penyakit.
3. Semprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb seperti Dithane M-45 atau yang berbahan propineb seperti Antracol 70 WP.

Tips dan Cara Agar Pohon Mangga Cepat Berbuah

April 06, 2016
Cara Agar Mangga Cepat Berbuah
Buah merupakan produk utama yang dihasilkan tanaman mangga. Produktivitas buah yang tinggi dengan kualitas baik akan menghasilkan keuntungan yang besar bagi mereka yang berbisnis buah mangga. Mangga termasuk tanaman tahunan yang biasanya berbuah sekali dalam setahun. Munculnya bunga atau buah tanaman mangga dapat diatur atau dipercepat dengan memberikan perlakuan khusus terhadap tanaman mangga.

Perlakuan khusus tersebut dapat dilakukan baik untuk mangga yang ditanam di kebun maupun mangga yang ditanam di dalam pot. Perlakuan ini bertujuan untuk merangsang pembentukan bunga dan buah yang dilakukan terhadap tanaman yang telah memasuki fase produktif, sekitar umur 1,5—3 tahun. Berikut beberapa perlakuan khusus yang biasa dilakukan untuk merangsang pembentukan bunga dan buah mangga.

A. Pemangkasan

Pemangkasan yang teratur terhadap tanaman mangga dapat merangsang pembentukan dan pertumbuhan buah. Pembuangan cabang dan ranting yang tidak produktif akan mengefisienkan penggunaan energi hasil fotosintesis, sehingga kandungan karbohidrat dalam tanaman yang dibutuhkan untuk pembentukan buah meningkat. Pemangkasan tanaman yang terlalu rimbun dapat membantu meratakan penyebaran sinar matahari.

Sinar matahari yang cukup juga membantu daun dalam menghasilkan karbohidrat yang optimal—yang akan digunakan sebagai cadangan makanan. Pemangkasan dilakukan dengan membuang cabang yang tumbuh tegak. Cabang yang tumbuh tegak biasanya tidak mampu menghasilkan bunga dibandingkan dengan cabang yang datar.

Pemangkasan juga dilakukan dengan membuang cabang yang rusak, terkena penyakit dan lemah, serta ranting-ranting yang bersilangan dan tumbuh terlalu rapat. Pemangkasan tunas muda juga dapat merangsang pembuahan. Cara ini cocok untuk mangga yang ditanam dalam pot, tetapi kurang efektif bila dilakukan terhadap mangga yang berukuran besar karena membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih banyak.

B. Pelukaan Batang

Pelukaan batang merupakan perlakuan fisik yang banyak dilakukan untuk merangsang pembentukan buah. Pelukaan bertujuan untuk menghambat distribusi hasil fotosintesis berupa karbohidrat dari daun ke akar, sehingga karbohidrat menumpuk di bagian daun dan cabang.

Kadar karbohidrat yang telah mencapai titik jenuh di bagian daun ditambah rasio nitrogen dan karbohidrat 2 : 3 dan hormon auksin yang diproduksi di bagian pucuk tanaman akan merangsang pembentukan bunga. Pelukaan di batang ini terbukti efektif mempercepat pembungaan dan pembuahan tanaman. Pelukaan biasanya dilakukan dengan mengupas kulit batang sampai kambiumnya hilang selebar 10—20 cm.

Pelukaan batang juga dapat dilakukan dengan mencacah atau membacok batang dengan cara memukul batang menggunakan pisau atau parang yang tajam. Pelukaan ini banyak dilakukan terhadap tanaman mangga, karena batangnya yang keras tahan terhadap luka kulit. Pencincinan (ringing) merupakan salah satu cara pelukaan batang dengan mengelupas kulit batang secara melingkar selebar 10 cm.

Pencincinan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan hanya mencacah atau membacok tanaman. Jika pengelupasan kulit tidak dilakukan dengan hati-hati dapat merusak bagian kambium tanaman yang akhirnya akan menyebabkan tanaman mati. Pencacahan atau pencincinan batang kurang disarankan, karena dapat mendatangkan penyakit di bagian batang yang dilukai.

C. Pelengkungan Batang

Pelengkungan batang bertujuan untuk menghambat per-tumbuhan vegetatif dan mendorong pertumbuhan generatif tanaman mangga. Pelengkungan batang dilaku-kan dengan mendatarkan cabang. Hal ini dikarenakan pada kondisi cabang yang mendatar, aliran unsur hara dan air berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan cabang yang tumbuh dengan posisi menurun.

Cabang yang mendatar membutuhkan tekanan agar unsur hara dapat mengalir, bila tidak aliran unsur hara akan terhenti. Teknik pelengkungan batang dilakukan dengan cara menarik cabang yang akan dilengkungkan ke arah tanah hingga merunduk. Ujung cabang ditahan menggunakan tali yang diikatkan ke patok yang ditancapkan di tanah agar cabang tidak kembali ke bentuk semula.

D. Pencekikan atau Pelilitan Batang

Pencekikan atau pelilitan batang juga merupakan kegiatan melukai batang tanaman mangga. Prinsipnya sama dengan pelukaan, yaitu untuk menghambat aliran hasil fotosintesis dari daun ke akar, sehingga karbohidrat tertahan di daun yang kemudian digunakan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan. Pencekikan dinilai lebih aman karena pelukaan dilakukan secara tidak langsung terhadap tanaman.

Pencekikan dilakukan dengan melilitkan batang primer atau batang sekunder menggunakan kawat. Pencekikan dengan kawat lebih baik karena lebih kencang sehingga pendistribusian hasil fotosintesis benar-benar terhambat. Batang yang dililit kawat akan semakin tercekik saat batang tanaman tumbuh membesar. Bunga akan muncul setelah dilakukan pencekikan selama 1—2 bulan. Lilitan dilepaskan setelah bakal buah mulai muncul. Pencekikan atau pelilitan ini cocok untuk merangsang pembungaan dan pembuahan mangga yang ditanam di pot.

E. Pemberian Fosfor atau Protein Berkadar Tinggi

Pemupukan dengan dosis fosfor atau protein yang tinggi dapat merangsang pembentukan bunga. Prinsipnya adalah dengan mengurangi pertumbuhan vegetatif sehingga merangsang pertumbuhan generatif. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik atau pupuk anorganik. Pupuk organik yang dapat diberikan berupa minyak ikan, tepung darah, dan tepung ikan dengan kandungan protein tinggi.

Air cucian ikan dan binatang laut yang kayak protein juga dapat disiramkan ke tanaman. Tepung darah atau tepung tulang diberikan setelah tanaman diberi pupuk kandang dengan menambahkan humus atau organic soil treatment (OST). Tepung darah atau tepung tulang diberikan setiap tiga bulan sekali, sebanyak 2—3 genggam/tanaman. Minyak ikan dapat ditambahkan setiap dua minggu sekali dengan komposisi 10 liter air untuk 1 tutup botol minyak ikan. Minyak ikan diberikan dengan cara disiramkan ke tanaman sebanyak 2—3 gayung per tanaman.
Berikut beberapa komposisi dosis pemupukan yang digunakan untuk merangsang pembungaan.
1. Pupuk majemuk NPK diberikan sebanyak 50 gram/pot. Pupuk daun dengan dosis 1 cc/2 liter air diberikan setelah 3—4 hari pemupukan pertama.
2. Pupuk tunggal dengan komposisi ¼ bagian N, ½ bagian P2O5, dan ¼ bagian K2O diberikan sebanyak 1,5 kg dengan menaburkannya di sekeliling tanaman, lalu disiram. Zat perangsang tumbuh seperti Giberelin, Dekamon, dan Golstar diberikan tiga minggu setelah pemupukan pertama. Tanaman kembali dipupuk menggunakan SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 250 gram setelah bunga muncul dan bila sudah ada buah yang matang.

F. Pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Pemberian ZPT bertujuan untuk memengaruhi pertumbuh-an jaringan tanaman dan merangsang pembungaan dan pembuahan. Komposisi sitokinin, giberelin, dan auksin akan merangsang pembentukan bunga. Giberelin merupakan zat perangsang tumbuh, yang keberadaannya harus dikurangi jika ingin memunculkan bunga. Retardan dengan bahan aktif paklobutrazol dapat menurunkan kadar giberelin dalam tubuh tanaman sehingga efektif memacu pembentukan bunga.

Pemberian paklobutrazol efektif untuk tanaman mangga, karena mangga termasuk tanaman terminal atau yang berbunga di ujung. Pemberian paklobutrazol untuk tanaman mangga yang sehat dapat menghambat pertumbuhan daun dan melumpuhkan titik tumbuh. Fotosintesis tetap berlangsung tetapi dengan rasio C/N yang lebih tinggi di bagian tajuk. Hal ini mengakibatkan pada saat titik tumbuh pulih, bukan daun baru yang keluar, melainkan bunga.

Paklobutrazol menghambat pertumbuhan sel meristem dan merangsang pembentukan bunga melalui dua cara. Pertama, dengan mengubah keseimbangan hormon yang menginduksi etilen untuk merangsang pembungaan. Kedua, dengan menekan laju pertumbuhan sehingga mengurangi akumulasi nitrogen. Pengaturan waktu pemberian paklobutrazol yang tepat dapat mengatur waktu panen mangga. Paklobutrazol diberikan dengan menyiramkannya di sekitar pangkal batang dengan dosis 5—10 ml yang dilarutkan dalam 10 liter air. Hal ini yang dilakukan salah seorang pengelola kebun di Majalengka untuk mengatur waktu panen mangganya.

Zat pengatur tumbuh lainnya yang dapat digunakan untuk merangsang pembuahan adalah cultar dan dekamon. Cultar berkhasiat untuk meningkatkan jumlah ranting produktif serta mempercepat dan merangsang pembentukan bunga. Sementara itu, dekamon berkhasiat untuk merangsang tumbuhnya tunas baru, mencegah bunga dan buah yang rontok, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas buah. Pemberian ZPT untuk tanaman mangga dapat menghasilkan buah berukuran besar, lebat, dan dengan rasa yang manis.

Pemberian ZPT harus dibarengi dengan pemupukan dan penyiraman yang teratur. Pemupukan dilakukan dengan memberikan fosfor dosis tinggi. Penyiraman diberikan secara rutin sebanyak 3—5 liter/hari. Penyiraman ditingkatkan menjadi 10—15 liter/hari bila telah muncul bunga. Dosis ZPT yang diberikan tidak boleh berlebihan karena dapat menghambat fungsi hormon tersebut. Waktu pemberian ZPT yang efektif adalah pada saat tanaman sudah memasuki masa produktif. Untuk mangga yang ditanam dalam pot, pemberian ZPT dilakukan setahun sekali, yakni setiap 3—4 bulan sebelum pembungaan.

G. Stres Air atau Pengeringan

Keberadaan air yang mencukupi memang dibutuhkan untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang maksimal, tetapi pemberiannya dapat dikurangi bila bunga atau buah tidak juga muncul. Perlakuan stres air ini berperan sebagai musim kemarau bagi tanaman mangga yang memang biasanya berbunga pada awal musim kemarau. Unsur hara yang terkandung dalam tanah akan sulit diserap oleh akar tanaman terutama unsur N yang hanya bisa diserap dalam bentuk ion yang terlarut dalam air.

Serapan unsur N yang berkurang akan merangsang per-tumbuhan bunga, karena ratio C/N meningkat. Perlakuan stres air dilakukan dengan menghentikan pemberian air selama beberapa waktu tertentu hingga bunga muncul. Perlakuan ini akan mengakibatkan tanaman layu sehingga pertumbuhan daun terhambat. Penyiraman kembali dilakukan secara rutin setelah bunga muncul dengan dibarengi pemupukan yang tepat.